WHO Tetapkan Monkeypox Darurat Kesehatan Global, Kadinkes dr. Yana : Tingkatkan Upaya Promotif dan Preventif

WhatsApp-Image-2022-07-25-at-11.26.55-AM.jpeg

Peyakit Cacar Monyet. Gambar : The Daily Beast

Kota Gorontalo, Dinkesprov – World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan Monkeypox atau cacar monyet sebagai wabah atau menjadi darurat kesehatan global, hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Saya telah memutuskan bahwa wabah cacar monyet global merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional,” ujar Tedros, Minggu (24/7/2022) yang dipublikasikan melalui akun Twitter WHO.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Yana Yanti Suleman, SH., kembali mengingatkan potensi wabah ini bisa sampai ke wilayah Provinsi Gorontalo.

“Untuk itu kita perlu mewaspadai dan meningkatkan kemampuan surveilans Puskesmas dalam mendeteksi kejadian penularan penyakit di masyarakat,” ujar dr. Yana.

Kadinkes juga berharap Puskesmas meningkatkan Upaya promotif dan preventif sebagai langkah pertama dan utama menangkal penularan penyakit ini.
“Kita tahu saat menghadapi pandemi Covid-19, pembiayaan kesehatan menjadi masalah utama dalam penanganan kasus yang telah terjadi sehingga upaya promotif dan preventif harus dikedepankan,” kata dr. Yana.

Kadinkes berharap masyarakat dapat menerapkan protokol kesehatan, meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta membudayakan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

“Kunci dalam penanganan pandemi ataupun Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dengan cara mencegah, sekali lagi saya sampaikan PHBS, Germas, konsumsi makanan bergizi seimbang, lakukan aktifitas fisik untuk menjaga kesehatan dan kebugaran,” pungkasnya.

Penyakit Cacar Monyet (Monkeypox)

Penyakit cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui binatang. Penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan pada 1958. Cacar monyet merupakan penyakit zoonosis, yaitu menular dari hewan kepada manusia.

Cara penularan cacar monyet melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi, dan mengonsumsi daging hewan liar terkontaminasi. Sedangkan penularan yang terjadi antar manusia melalui kontak dengan sekresi pernapasan, lesi kulit dari orang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi. Masuknya virus cacar monyet dapat melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan, atau selaput lendir mata, hidung, atau mulut.

Gejala penyakit cacar monyet pada manusia :

  1. Fase prodromal atau fase awal selama 1-3 hari : diawali dengan sakit kepala hebat dengan demam. Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati). Limfadenopati dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan.
  2. Fase erupsi atau fase kedua : berupa munculnya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. Ruam paling banyak muncul pada wajah (95% kasus), telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus). Ruam atau lesi ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh kecil berisi cairan bening (vesikel), lepuh kecil berisi nanah (pustula), kemudian mengeras atau krusta lalu rontok. Pada fase yang berlangsung sekitar 10 hari ini, seseorang berpotensi menularkan penyakit ini hingga semua krusta menghilang dan rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai fase erupsi ini menghilang dan rontok (memasuki fase konvalesen atau penyembuhan).

Pengobatan dan Vaksinasi
Belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul. Vaksin yang digunakan selama program pemberantasan cacar (smallpox) memberikan perlindungan terhadap monkeypox. Vaksin baru yang dikembangkan untuk smallpox telah disetujui pada tahun 2019 untuk digunakan dalam mencegah monkeypox namun ketersediaan global masih terbatas.

Cara mencegah terjadinya penyakit cacar monyet :

  1. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan air dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.
  2. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi kontak langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.
  3. Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur serta pakaian yang sudah dipakai penderita.
  4. Menghindari kontak dengan hewan liar atau tidak mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar.
  5. Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit cacar monyet.
  6. Bila memang terjadi segera memeriksakan diri, jika mengalami gejala seperi demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.
  7. Penderita dapat segera menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.
  8. Petugas kesehatan dapat menggunakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

Rilis : Tim Infokom
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − 8 =

scroll to top