Waspada DBD Di Musim Hujan

IMG-20200104-WA0013.jpg

Kasie Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Irma Cahyani Ranti

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Faktor penyakit yang disebabkan oleh nyamuk di musim hujan meningkat dibandingkan musim panas. Hal ini disebabkan oleh tingginya populasi nyamuk saat musim hujan.

Berkenaan dengan itu, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melalui Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengingatkan masyarakat untuk melaksanakan konsep 3M+ yaitu menutup, menguras, membersihkan dan plusnya adalah mencegah gigitan nyamuk.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, dr. Irma Cahyani saat diwawancarai di kantornya, Jumat (03/01/2020).

“Kalau musim hujan itu risiko tinggi penyakit karena faktor nyamuk. Ini disebabkan populasi nyamuk itu meningkat saat hujan,” ujar dr. Irma

Meningkatnya populasi nyamuk saat hujan dijelaskan oleh dr. Irma. Karena telur-telur nyamuk yang berada di tempat-tempat kering selama musim kemarau itu menetas.

“Telur nyamuk itu bisa bertahan hingga enam bulan di tempat yang kering. begitu musim hujan tempat-tempat itu terisi air. Semua telur-telur itu kemudian menetas,” papar dr. Irma

“Ketika populasi nyamuk meningkat. Otomatis nyamuk sebagai faktor binatang pembawa penyakit. Dalam hal ini demam berdarah, malaria, dan chikungunya itu akan meningkat. Jika ada satu saja yang DBD kemudian banyak nyamuk Aedes Aegepty, otomatis resiko penularan penyakit DBD juga meningkat, jadi kaitannya seperti itu,” lanjut dr. Irma mejelaskan.

Walaupun sebenarnya menurut dr. Irma kalau pengendalian populasi nyamuk itu seharusnya sebelum musim hujan. Kerena kalau nanti sudah musim hujan itu sebenarnya terlambat. Populasi nyamuk sudah banyak.

“Seharusnya pemberantasan jentik nyamuk itu dilakukan sebelum musim hujan atau bahkan sepanjang tahun tanpa melihat musim. Mulai dari kaleng-kaleng, gelas air minum kemasan dan apa saja yang bisa menampung air harus dibersihkan,” ungkapnya

Namun kembali dr. Irma menekankan untuk mengantisipasi terjadi penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Masyarakat harus melaksanakan 3M+.

“Pertama yaitu menutup tempat-tempat penampungan air seperti sumur dan tong agar nyamuk tidak masuk untuk bertelur di situ. Ke dua Menguras, jadi bukan dibuang airnya tapi dikuras alias disikat karena telur nyamuk itu menempel di dinding bak atau tong. Kemudain ketiga Membuang atau menggunakan kembali barang barang bekas yg bisa menampung air, kalau sudah tidak dipakai harus dibuang pada tempatnya,” terangnya.

Sementara untuk plusnya menurut dr. Irma itu banyak. Mulai dari menghindari gigitan nyamuk dengan losion anti nyamuk atau semacamnya. Memakai pakaian yang panjang, jangan berkeluaran di jam-jam yang banyak nyamuk misalnya petang dan malam. Jangan menggantung pakaian di belakang pintu dan menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti bunga Lavender, tanaman serai,dll.

Di samping itu, dr. Irma menilai pengendalian yang dilakukan oleh teman-teman dinkes provinsi maupun kabupaten/kota sudah baik dan aktif dalam mensosialisasikan gerakan 1 rumah 1 jumantik (juru pemantau jentik). Jadi seminggu sekali ada yang harus mamantau dan membersihkan jentik yang ada di rumah masing-masing, terutama di tempat-tempat yang biasa ditempati oleh nyamuk untuk bertelur.

“Sekarang teman-teman di kabupaten/kota lebih antisipatif dari tahun lalu. Biasanya di awal tahun seperti inj sudah ada kejadian luar bisa (KLB). Tapi alhamdulillah sampai sekarang belum ada dan semoga tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Rilis : Muhajir
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − five =

scroll to top