Upaya Mengurangi Jumlah Perokok, Dinkes Provinsi Adakan Pelatihan

IMG-20191105-WA0001.jpg

Pembukaan Pelatihan bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pendidk dalam Upaya Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Upaya Berhenti Merokok (UBM) yang dibuka oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Misranda E. U. Nalole, M.Si.,, Senin (04/11/2019) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Rokok merupakan ancaman kematian, WHO memperkirakan pada tahun 2030 kematian akibat rokok akan meningkat menjadi 8 juta baik dari perokok aktif maupun perokok pasif dan dari 80 % kematian tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Indonesia menempati peringkat ke 3 jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India. Lebih dari 40,3 juta anak Indonesia berumur 0-14 tahun telah menjadi perokok pasif dengan menghirup asap rokok dari lingkungan rumahnya. Tahun 2018  Provinsi Gorontalo memiliki prevalensi penduduk  umur 10 tahun ke atas yang merokok yang menduduki peringkat 2 setelah Jawa Barat yakni sebesar 32 %.

Data itu diungkapkan Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Misranda E. U. Nalole, M.Si., saat membuka acara Pelatihan Bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pendidk dalam Upaya Implementasi KTR dan UBM di Sekolah dan Puskesmas, Senin (04/11/2019) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo.

Misranda mengatakan saat ini banyak ditemukan anak-anak sekolah yang mulai merokok padahal rokok pada anak dapat menyebabkan infeksi mata, telinga, terjadinya kematian mendadak pada bayi, memicu perilaku agresif, mengganggu sistim imun, meningkatkan kejadian kanker dan sebagainya.
“Ini butuh dukungan dan motivasi dari guru agar anak-anak kita bisa terhindar dari kebiasaan merokok” ucap Misranda.

Saat ini, menurut Misranda Vape/Vaping/rokok elektrik sedang menjadi trend dikalangan anak muda saat ini, dianggap tidak berbahaya dan menjadi pengganti rokok konvensional, padahal rokok elektronik sama bahayanya dengan rokok konvensional.

Kiat-kiat yang dilakukan oleh Gubernur Gorontalo dalam mengatasi masalah merokok memberikan Punishment bagi pegawai yang ketahuan merokok dimutasi atau diturunkan dari jabatan.
“Reward 1 juta bagi masyarakat yang melaporkan jika menemukan pegawai yang merokok juga terkait penghapusan dari Jamkesta jika anggota keluarga ada yang merokok, mengkonsumsi minuman keras, tidak KB dan tidak bersedia Donor Darah” tegas Misranda.

“Harapan saya Bapak dan Ibu semua yang akan dilatih ini dapat menjadi agen perubah yang dapat mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok” pungkasnya.

Rilis : MD & ILB
Foto : Reza
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − 2 =

scroll to top
X