Teori Religi Atasi Obesitas

WhatsApp-Image-2022-01-25-at-08.07.34.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Dosen Poltekkes Gorontalo

Salam Gizi;
“Sehat Melalui Makanan”

Teori Dasar: Surat Al-A’Raaf ayat 31 artinya: …makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan…
Obesitas bukti berlebihannya apa yang dimakan dan diminum, kalau begitu orang obesitas berarti tidak disukai oleh Allah SWT?

Selamat Hari Patriotik Gorontalo ke-80 Dan Selamat Hari Gizi Nasional ke-62

Penanganan Obesitas dan Akibatnya
Sangat bervariasi teori dan praktik untuk mencegah dan mengatasi obesitas, namun tidak sedikit yang gagal dan malah kembali obesitas. Untuk menjawabnya, marilah kita mencontoh bukan mengada-ada, dan sejatinya kita mengikuti bukan memulai. Apa saja itu…?

Obesitas adalah penumpukkan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan energi (energi intake) dengan energi yang digunakan (energi expenditure) dalam waktu lama dengan indeks massa tubuh (IMT) >25 kg/m2 (WHO, 2000). Karena tidak seimbang maka berbagai masalah muncul diantaranya gangguan metabolisme tubuh. Akibatnya berdampak negatif seperti bisa terjadi penyakit Diabetes Mellitus (DM) tipe 2, penyakit kantung empedu, dislipidemia dan perlemakan hati, sindrom metabolik, sleep apnoea, penyakit jantung, hipertensi, osteoarthritis, asam urat dan gout, kanker, gangguan hormon, dll.

Sayang sekali bahwa penanganan obesitas melalui berbagai cara yang dianggap ilmiah oleh masyarakat seperti penggunaan bahan kimia untuk dikonsumsi agar terjadi penekanan napsu makan, namun yang terjadi adalah gangguan lambung yang parah (gastritis); Ada juga dalam sehari hanya sekali makan yakni pada siang saja, sementara pagi dan malam tidak makan juga tidak makan snack tetapi banyak yang lemah dan jenuh sehingga gagal untuk mencapai berat badan normal; Ada juga yang sehari semalam hanya minum air, juga tidak berhasil mencapai berat badan normal; Melakukan diet tertentu seperti tinggi lemak yang bisa melebihi 70% dari total kecukupan energi, tetapi banyak yang gagal dan malah menjadi obesitas lagi; Menggunakan konsep alami seperti penggunaan herbal-herbal yang mahal harganya namun yang terjadi malah berbagai gangguan kesehatan termasuk gangguan fungsi ginjal dan hati; Ada yang tidak makan sumber karbohidrat seperti nasi dan sejenisnya hanya makan sumber lauk pauk, sayuran dan buah, juga tidak sedikit yang gagal bahkan bermasalah dalam organ tubuhnya; ada juga yang melalui pengaturan makanan dan operasi, dll.

Puasa Nabi Daud AS, Ibadah Atasi Obesitas

Sesungguhnya, teori religi memberikan solusi terbaik mengatasi obesitas namun menjadi pengabaian umat manusia. Untuk penyeimbangan berat badan (BB) sesungguhnya dapat melalui puasa Ramadhan, puasa Senin dan Kamis, atau puasa Nabi Daud AS yang berselang seling yakni sehari puasa, sehari tidak puasa.

Misalnya seorang laki-laki umur 30-49 tahun dengan BB 60 kg dan tinggi badan (TB) 166 cm berarti IMT-nya adalah {60 : (1,66 x 1,66)}= 21,7 kg/m2  termasuk kategori normal (18,5 -22,9 kg/m2). Sesuai angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG 2019) dalam sehari energinya sebanyak 2550 kkal berarti rata-rata perkilogram BB/hari adalah 42,5 kkal.

Berat badannya laki-laki ini mengalami penambahan 20 kg sehingga menjadi 80kg, maka yang dikonsumsinya bisa saja mencapai 3400 kkal/hari (80 kg x 42,5 kkal). Kenaikan BB 20 kg adalah dalam bentuk lemak, bila dikonversi dalam zat gizi lemak tersebut maka 20 kg x 1000gr x 9 kkal =  180.000 kkal. Untuk membakar 180.000 kkal atau menurunkan 20 kg ini dapat ditempuh berbagai cara yakni mengurangi jumlah yang dikonsumsi dipadukan dengan olahraga guna peningkatan pembakaran misalnya joging pagi, bersepeda, renang atau olahraga lainnya sehari 30-45 menit. Dan bila dijabarkan dalam 6 kali makan yakni 3 kali makanan utama dan 3 kali snack dengan sarapan sebanyak 20% dari total energi, snack masing-masing 10%, sementara makan siang dan malam adalah sama 25% dari total energi. Lihat tabel.

Pembagian Waktu Makan Berdasarkan AKG Tahun 2019

Dan Terjadi Kenaikan BB

Catatan: tulisan merah tidak dikonsumsi saat puasa

Sesungguhnya, pengaturan BB dapat dilakukan melalui puasa yang ternyata menyehatkan. Bila mengikuti anjuran pengurangan konsumsi makanan untuk mencapai berat badan normal maka sehari dapat dikurangi 500-1000 kkal dengan harapan dapat menurunkan  0,5-1 kg BB dalam 1 pekan. Uuntuk menurunkan 20 kg bisa 20-40 pekan  atau 5-10 bulan.

Karena puasa, apabila tidak mengkonsumsi 3 waktu makan yakni snack pagi (340 kkal), makan siang  (850 kkal) dan snack sore (340 kkal) berarti total pengurangan  energi yang terjadi sebanyak (340 kkal + 850 kkal + 340 kkal) yakni 1530 kkal atau sekitar 45% dari total energi yang biasa dikonsumsi setiap hari yakni 3400 kkal. Berarti untuk menurunkan BB 20 kg maka butuh waktu puasa: 180.000 kkal dibahagi 1530 kkal hasilnya adalah 117,64 hari atau 3,9 bulan. Artinya karenan sehari puasa, sehari tidak puasa maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai BB normal adalah 3,9 bulan dikalikan 2 menjadi 7,8 bulan. Lihat Tabel.

Untuk pengaturannya, snack pagi digunakan untuk buka puasa pukul 18.00, makan malam dikonsumsi sebagai makan malam sesudah sholat Magrib atau sholat Isya, dan sarapan pagi dikonsumsi untuk makan sahur.

             Dari pada mempraktikkan proses penurunan BB yang sering membuat stress berlebihan, penyakit bahkan kematian, lebih baik berpuasa. Ini sebagai ibadah guna memperoleh kesehatan spiritual, fisik, mental dan sosial termasuk mengatur BB dalam proses keseimbangan hidup.

Mencegah obesitas bisa saja melalui puasa Senin dan Kamis. Mengatasi obesitas dapat dilakukan melalui puasa Senin dan Kamis, puasa Ramadhan atau puasa Nabi Daud dengan jumlah pengurangan makanan seperti yang dijelaskan sebelumnya dan yang diimbangi dengan olahraga dan istirahat. Untuk diet puasa dalam pengaturan jumlah, jenis dan waktu makan diseimbangkan dengan aktivitas dikonsultasikan dengan Ahli Gizi.

Penting pembelajaran teori religi untuk mengatasi obesitas ini dimulai sejak SD, SMP, SMA, perguruan tinggi tapi disesuaikan dengan keyakinan dan inilah peran pemerintah dalam sistem regulasinya dalam Agama, Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Sosial dan Budaya, dengan tujuan kemaslahatan umat hari ini dan masa depan.

Semoga tulisan ini sebagai berita kebaikan dalam kebenaran yang rasional dan ilmiah, Aamiin!!! Salam Gizi: “Sehat Melalui Makanan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + 12 =

scroll to top