Tangani Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, Kualitas Pelayanan Kesehatan Perlu Ditingkatkan

IMG-20210827-WA0014.jpg

Pembukaan Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal untuk Kabupaten/Kota Lokus AKI/AKB

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kematian ibu hamil dan bersalin serta kematian bayi masih menjadi salah satu permasalahan di Indonesia. Tahun 2010 angka kematian ibu (AKI) 346 per 100.000 kelahiran hudup (KH) sensus penduduk 2010. Sedangkan tahun 2015 sebesar 305 per 100.000 KH (SUPAS, 2015). Adapun target penurunan AKI pad akhir RPJMN 2020-2024 adalah 183 per 100.000 KH.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan penurunan angka kematian neonatal (AKN) dari 32 pada tahun 1991 menjadi 19 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2012, dan 15 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2017. Namun penurunan AKN cenderung menetap dalam kurun waktu 1991-2017 (SDKI 1991 dan 2017, sementara target AKN adalah 10 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2024.

Dari gambaran angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa penurunan angka-angka kematian dapat dikatakan kurang bermakna, sehingga target AKI maupun AKB yang ditetapkan baik untuk RPJMN tahun 2010-2014 maupun MDGs tahun 2015 diperkirakan akan sulit dicapai.

Sehingga Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo terus mengupayakan penurunan kematian ibu dan bayi dengan berbagai upaya dan inovasi. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal untuk Kabupaten/Kota Lokus AKI/AKB. Pelatihan ini dilaksanakan selama 13 hari (mulai tanggal 26 Agustus s/d 8 September 2021) yang menghadirkan Fasilitator dan Tim Gadar dari RSUD Prof. DR. H. Aloei Saboe, RSUD Hasri Ainun Habibie dan RSUD Otanaha Kota Gorontalo. Dengan tetap menjaga dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kegiatan pelatihan ini dibuka langsung Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr. Yana Yanti Suleman, SH. Dalam sambutannya Kadinkes menjelaskan bahwa upaya menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi perlu dilaksanakan upaya yang terpadu dalam menangani permasalahan dan penyakit yang terjadi pada masa hamil, bersalin , nifas dan bayi neonatus.

“Khususnya dalam menangani kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatus. Maka dari itu diperlukan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir”, ujar dr. Yana.

Ditambahkannya, salah satu faktor utama yang akan menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan tersebut adalah terkait kualitas sumber daya manusia yang melaksanakannya. Oleh karena itu perlu dilakukan penguatan kapasitas tenaga kesehatan tersebut khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan primer melalui pelatihan komprehensif dan tepat sasaran.

“Salah satunya adalah melalui pelatihan teknis yang disebut dengan pelatihan penanganan kegawatdaruratan Maternal & Neonatal bagi Dokter Umum, Bidan dan perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer”, ungkapnya.

Terkait dengan hal ini, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB dr. Rosina Kiu menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki beban masalah kesehatan dalam tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

“Salah satu upaya dalam percepatan penurunan AKI dan AKB adalah memberikan perhatian serius dalam mengatasi masalah komplikasi pada saat kehamilan, persalinan dan nifas” pungkasnya.

Peserta berjumlah 24 orang yaitu 8 Dokter, 16 bidan dan Perawat yang berasal dari puskesmas lokus AKI AKB dan RSUD ZUS Kabupaten Gorontalo Utara.

Rilis : Dewi Frida / Nur Ajran
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 2 =

scroll to top