Suspect Antrax, TGC Respon KLB Lakukan Investigasi

IMG-20190117-WA0052.jpg

Pasien Suspect Antraks yang dirawat di Fasyankes

Kabupaten Gorontalo, Dinkesprov – Di awal tahun 2019 Antraks mengancam setelah selama tahun 2018 tidak ada laporan. Hal ini, sesuai informasi dari petugas surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo yang telah melaporkan kasus yang menyerupai gejala klinis penyakit antraks di wilayah Puskesmas Pulubala yaitu di desa Bakti, sehingga Tim Gerak Cepat (TGC) Respon KLB Provinsi Gorontalo langsung turun kelokasi untuk melakukan Investigasi, Kamis (17/01/2019).

Tim TGC Provinsi bersama petugas Kabupaten Gorontalo, sebelumnya berkoordinasi dengan pihak puskesmas dan Camat Pulubala selaku pemerintah setempat untuk melakukan investigasi kasus dilapangan sekaligus memberikan sosialisasi tentang bahaya dan bagaimana pencegahan serta penanggulangan penyakit Antraks. Setelah itu tim bersama petugas puskesmas melakukan investigasi dan penyelidikan epidemiologi di desa Bakti Kecamatan Pulubala.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, dr. Irma Cahyani Ranti menyatakan dari hasil investigasi diperoleh informasi bahwa kejadian dimulai sejak 4 januari 2019, dimana salah satu warga menyembelih kambing miliknya sendiri yang kemudian diolah dan dikomsumsi serta sebagian dibagikan kepada warga sekitar.

“Jumlah warga yang mengkomsumi sebanyak 24 orang dan dari warga yang kontak dengan daging kambing tersebut 1 (satu) minggu kemudian 3 orang diantara warga yang mengkonsumsi daging itu menunjukan gejala klinis Antraks kulit” kata dr. Irma.

Pada penderita yang menunjukan gejala klinis tersebut, sudah dilakukan pengobatan oleh pihak puskesmas dan seorang penderita sudah dirujuk ke rumah sakit MM. Dunda Limboto untuk pemeriksaan lanjut.

“Walapun sudah menunjukan gejala klinis penyakit Antraks tetapi kita perlu melakukan konfirmasi laboratorium untuk memastikan kasus tersebut adalah kasus positif Antraks, untuk itu dilakukan pengambilan specimen pada penderita untuk dikirim ke laboratorium rujukan yaitu BALITVET (Balai Besar Penelitian Veteriner) Bogor maupun BALITVET Maros” pungkasnya.

Dinas Kesehatan menghimbau masyarakat memastikan daging yang akan di konsumsi benar-benar dari sumber hewan yang sehat dan di masak sampai matang dan apabila ada indikasi yang menunjukan gejala klinis kasus antraks segara melapor dan berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Rilis : Iswan
Editor : MD dan Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × four =

scroll to top