Sumpah Pemuda, Diversifikasi Pangan dan Wisata

WhatsApp-Image-2020-10-16-at-11.32.12.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes., Pemerhati Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, ASN BPBD Provinsi Gorontalo.

Masihkah diwarnai titah sumpah pemuda Diversifikasi pangan untuk ekonomi rakyat kita? Apakah konsumsi bahan import yang begitu tinggi telah dipengaruhi oleh harkat martabat kehidupan akibat tindakan masa lalu? Bagaimana tindakan hari ini menentukan kemaslahatan masa depan dalam bahagia berwisata di alam Covid-19?

Selamat Hari Pangan Se-Dunia 16 Oktober 1945 – 16 Oktober 2020 Dan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2020).

Diversifikasi pangan dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada salah satu bahan makanan diantaranya makanan pokok yakni beras. Ini dapat diganti atau divariasikan dengan yang lainnya seperti umbi-umbian, pisang, sukun, sagu. Semuanya sebagai sumber karbohidrat yang dapat diperoleh dari lokal. Namun hal ini telah bermakna lain, yang ternyata malah memasyarakatkan produk bukan lokal, dan telah jelas dalam iklan-iklan atau sajian-sajian baik pada jamuan resmi maupun tidak resmi adalah makanan yang bukan lokal. Apakah tidak disadari bahwa diversifikasi pangan malah membelajarkan, meyakinkan, mempraktikkan guna meningkatkan konsumsi terigu atau pangan import lainnya dalam suasana wisata bahagia dan bahkan pada saat duka bencana?

Indonesia dapat merdeka selain ditunjang oleh jiwa keberanian para pelaku perjuangan, juga karena ketersediaan dan diversifikasi pangan yang memadai sebagai sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur untuk tubuh manusia. Saat itu rakyat mengumpulkan secara suka rela berbagai bahan pangan, bahkan beragam makanan yang dibungkus dengan daun pisang atau sejenisnya untuk dibagikan pada para pejuang. Keberanian dalam perjuangan bangsa ini telah terimplikasi sebelumnya melalui sumpah para Pemuda Indonesia saat itu yakni bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia; Berbangsa satu, Bangsa Indonesia; Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia. Dengan sumpah ini, sesungguhnya merupakan salah satu bukti bahwa para pemuda saat itu telah menjiwai dan menyenangi makanan lokal atau makanan dari daerahnya masing-masing, yang sekarang dikenal dengan makanan Nusantara.

Penjelasan sebelumnya menyatakan peringatan bahwa telah berbeda jauh tindakan hari ini sekalipun didasari oleh sejarah, apalagi sedang hidup di alam Covid-19. Apa saja itu? Pertama: bahwa ternyata konsumsi beras perkapita pertahun hanya 27 kg, sementara konsumsi terigu malah melebihi konsumsi beras yakni 30 kg perkapita pertahun, demikian disampaikan oleh guru besar IPB Profesor Dwi Andreas Santosa (Republika.Co.ID, Jakarta, Rabu 4 September 2019). Selanjutnya disampaikan pula bahwa dengan bertambahnya konsumsi gandum dalam hal ini terigu dibandingkan dengan beras perlu diwaspadai karena malah meningkatkan arus import yang tentunya akan mempengaruhi produksi bahan makanan lokal.

Kedua, adalah kerugian besar jika bahan pangan lokal tidak dikonsumsi bahkan tidak diproduksi lagi karena ketergantungan pada import yang selalu dianggap bahwa lebih murah membeli bahan makanan luar negeri dari pada menanam dan memelihara sendiri. Ini tentunya sudah melenceng jauh dari makna sumpah pemuda yang telah diikrarkan.

Ketiga, makanan luar negeri seperti Jepang, Cina, Eropa, Amerika, India, Malaysia dan negara lainnya terkenal di Indonesia dan tetap memakai nama asli makanan tradisional tersebut serta semuanya sesuai bahasa negaranya. Ini menjadi brand dalam dunia nyata dan dunia maya, akibatnya tidak sedikit yang melakukannya. Kalau nama makanan tradisional Indonesia, malah sengaja ditenggelamkan atau diganti namanya dengan istilah-istilah luar negeri yang belum tentu lebih baik, jadi apakah ini bentuk tidak percaya diri kita ataukah dianggap terasa merendahkan?

Diversifikasi pangan di tempat-tempat wisata, diperkantoran, di perusahan-perusahan, di restoran-restoran, di kantin-kantin, di pesta-pesta/ jamuan atau hajatan-hajatan malah mengedepankan bukan makanan tradisional bahkan tidak sedikit makanan instan. Jadi dalam mengembangkan makanan tradisional, ternyata yang berkembang malah makanan instan. Makanan instan bukan produk lokal tetapi bahan-bahannya yang diimport. Ini juga terjadi bukan hanya pada saat rileks atau happy saat berwisata, tetapi disaat duka bencana pun dikedepankan makanan instan dengan bahan-bahannya import.

Sesungguhnya dengan mengkonsumsi makanan tradisional yang bahannya dari lokal, maka tentunya sudah memberikan wisata untuk suatu daerah dan dapat meningkatkan ekonomi rakyat daerah itu. Ini dicontohkan dengan sebuah ilustrasi: Misalnya saja dalam sehari kita tiga kali makan dan setiap kali makan harganya seandainya Rp.15.000,-. Jadi bisa saja dalam sehari dengan tiga kali makan, setiap orang harus mengeluarkan uang Rp. 45.000,- hanya untuk beli makanan. Bila diabaikan tiga kali makan ini dan anggaplah dalam sehari hanya sekali makan oleh penduduk suatu daerah dengan jumlah misalnya 1 juta jiwa. Ini akan menghasilkan 15 miliyar rupiah untuk sehari dan hanya sekali makan. Jika dalam setahun, maka ini dikalikan 365 hari sehingga totalnya menjadi 5,475 Triliun rupiah. Ini baru dalam setahun, dan dengan jumlah uang sebanyak itu maka sangat kuat untuk menggerakkan ekonomi rakyat.

Bila ditambah dengan jumlah jajanan anak sekolah dan mahasiswa, yang jikalau mengkonsumsi jajanan tradisional yang bahannya produk lokal, pastilah akan lebih meningkatkan jumlah uang yang tertahan di suatu daerah dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat. Contoh jajanan tradisional oleh siswa dan mahasiswa yang jumlahnya misalnya sekitar 400 ribu orang. Dengan jajanan tradisonal ini akan memberikan nilai ekonomi sebesar 1,2 Miliyar rupiah (Rp.3.00,- x400.000 orang) dalam sehari. Setahun bisa 438 miliyar rupiah (1,2 M x 365 hari). Jadi jika ditotalkan biaya konsumsi makanan ditambah dengan biaya jajanan tradisional maka dalam setahun bisa terjadi perputaran uang sebesar 5,913 triliun rupiah (5,475 Triliun rupiah + 438 miliyar rupiah). Apalagi ditambah dengan jumlah makanan tradisional yang dikonsumsi oleh wisatawan domestik dan manca negara.

Sangat disayangkan saat ini, bahwa fungsi-fungsi wisatawan belum meningkatkan ekonomi rakyat lokal, ini dapat dibuktikan dengan kurangnya ketersediaan makanan dengan bahan-bahan lokal di hotel-hotel seperti terjadi di hotel-hotel berbintang termasuk yang di dekat pantai atau dekat laut yang tidak menyediakan menu ikan. Demikian pula daging sapi, daging ayam, sayuran, buah, minyak goreng, kacang-kacangan atau bahan pangan lainnya bukan dibeli dari lokal tetapi malah hampir semuanya dari luar daerah atau bahkan semuanya import?

Jika demikian, apakah dapat dikatakan bahwa diversifikasi pangan dalam berwisata maupun bencana ternyata malah mengarahkan untuk mengganti beras menjadi terigu atau menggantikan dengan bahan import lainnya? Tentunya tindakan hari ini, akan memberikan dampak untuk masa depan yang  bisa saja terjadinya ketergantungan bahan pangan dari negara lain, sementara Indonesia dikenal hijau dan subur. Ini terabadikan dalam syair-syair bahwa “tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman (Koes Plus)”.

Sangatlah miris bisa saja beberapa tahun kemudian tanpa disadari, negara kita akan dijajah dengan makanan yang rendah kualitasnya dengan harga yang sulit terjangkau sehingga dapat menjadi salah satu penyebab utama terjadinya masalah ekonomi termasuk timbulnya berbagai penyakit. Kalau sudah sakit maka akan lebih besar lagi biaya yang digunakan hanya untuk mencapai sehatnya tubuh sementara kemampuan ekonomi yang dimiliki adalah rendah. Ini mempengaruhi kualitas produktivitas kerja dan pendapatan masyarakat. Dan karena masyarakat terbatas uangnya maka telah disediakan makanan-makanan yang berkualitas rendah yang memudahkan orang bisa jatuh sakit? Jika orang sudah jatuh sakit, bisa saja dia masuk dalam siklus sakit dan  ini berarti dia juga sudah masuk pula dalam siklus miskin?

Begitu pentingnya jalinan kerja lintas program, lintas sektor dan lintas profesi untuk menyediakan, mempelajari, meyakini dan mempraktikkan diversifikasi pangan yang meliputi: bahan makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, minyak goreng, kacang-kacangan, dan bumbu-bumbu yang alami, halal (bagi umat Islam), beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan guna mendukung konsumsi lokal, wisatawan termasuk dalam bencana namun tetap terjangkau secara ekonomi? Semoga tulisan ini bermanfaat. Ayoo!!! Bersama berani berbuat baik untuk daerah, untuk Indonesia, untuk dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 5 =

scroll to top