Salam Gizi!!! “Sehat Melalui Makanan”

WhatsApp-Image-2022-05-29-at-19.06.21.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI) Provinsi Gorontalo, Dosen Poltekkes Gorontalo.

Salam gizi merupakan bentuk pengagungan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas pentingnya makanan yang harus dikonsumsi oleh umat manusia. Ini dapat menjadi Promosi dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah gizi juga kesehatan.

Semua orang memahami  bahwa salam merupakan pernyataan hormat dalam bentuk doa dari diri kita sendiri atau seseorang kepada orang lain ataupun sebaliknya. Tujuan memberi dan membalas salam tidak lain adalah untuk memperoleh kebaikan dan kesejahteraan dalam hidup. Seperti makna salam dalam Ajaran Islam yang diberikan kepada sesama Muslim yakni “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh artinya semoga kepadamu, Allah melimpahkan keselamatan, rahmat serta keberkahan-Nya”. Kemudian dijawabnya salam tersebut dengan ucapan “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakaatuh yang artinya Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah juga kepada anda/kalian”.

Bagaimana dengan salam gizi? Ini sebagai  bentuk pengagungan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, Tuhan  YME tentang pentingnya makanan yang harus dikonsumsi oleh umat manusia yakni makanan yang halal (muslim), dan makanan yang baik dengan ciri-ciri:  alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan.

Sebagai buktinya bahwa Allah SWT menjadikan salah satu perintah pertama dan larangan pertama dalam alam kehidupan adalah tentang makan. Dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-baqarah ayat 35, yang artinya: “Dan Kami berfirman wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, (tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini (makan buahnya), nanti kamu masuk orang-orang yang zalim”.

Ketika Nabi Adam dan Hawa melanggar perintah dan larangan dimaksud, maka sanksi yang diterima adalah mereka di pindahkan ke alam dunia. Demikian pula ketika manusia berada di alam dunia, maka Allah SWT tetap memberikan perhatian khusus tentang makanan untuk umat manusia seperti pemberian air susu ibu (ASI) sampai anak umur 2 tahun (Q.S. Al-baqarah ayat 233), mengkonsumsi makanan yang halal dan baik (Q.S. Al-baqarah ayat 168), juga berbagai penjelasan dalam Hadist Nabi Muhammad SAW. Namun bila aturan makan ini dilanggar, maka dengan cepat pula manusia akan dipindahkan ke alam lain yakni alam barzah/kubur?

Ketika di alam akhirat nanti, maka manusia yang baik dan buruk amalannya di dunia akan diberikan makanan dan minuman. Untuk orang baik dan beriman, Allah SWT memberikan buah-buahan yang dapat dipetik dan langsung dimakan (Q.S Arrahman ayat 54), diberikan air susu dari sungai-sungai (Q.S. Muhammad ayat 15), dsb.

Bagi orang yang jahat, di alam akhirat nanti tetap diberikan makanan dan minuman namun makanannya yang berduri (Q.S. Al Ghasyiyah ayat 6), diberikan minuman namun minuman dari nanah (Q.S Ibrahim Ayat 16-17); dari cairan tembaga yang mendidih (Q.S. Ad-Dukhan ayat 45),  dsb.

Karena kisah makanan berawal dari alam kehidupan saat Nabi Adam dan Hawa di Surga, berlanjut ke alam dunia, sampai pada alam akhirat nanti, maka dapat dikatakan bahwa kisah makanan merupakah kisah ilmu yang  tertua dan abadi dalam alam kehidupan (Napu A, 2019).

Jawaban salam gizi adalah “Sehat melalui makanan” artinya bahwa makanan dimaksud yakni yang biasa dikonsumsi di daerahnya masing-masing dengan syarat halal (muslim) dan baik serta merupakan subyek atau obyek yang harus diseimbangkan dengan umur, berat badan, tinggi badan, aktivitas termasuk olahraga, cuaca, status kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya. Jadi tujuannya saling mengingatkan dan mendoakan agar diri kita dan orang lain dapat mengupayakan kesehatan yang diperoleh melalui makanan sebagaimana moto profesi gizi dalam bahasa Sangsekerta yaitu  “Svastha Harena” yang artinya sehat melalui makanan.

Salam Gizi dengan jawabannya “Sehat Melalui Makanan” pada 8 Nopember 2020 diperkenalkan pertama kali oleh penulis saat itu sebagai Narasumber pada Pelatihan Sertifikasi Tenaga Gizi Olahraga Tingkat Nasional yang diselenggarakan Oleh KONI, Kemenpora RI dan DPP ISNA di Jakarta. Kemudian diperkenalkan lagi pada pertemuan-pertemuan formal dan informal dalam instansi kesehatan, webinar nasional, kepada para mahasiswa kesehatan. dan berbagai kalangan termasuk pada organisasi profesi.  

Pada tanggal 21 Mei 2022 Salam Gizi dengan jawabannya “Sehat Melalui Makanan” dilaunching oleh Ketua DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia secara virtual pada acara puncak Peringatan Hari Gizi Nasional. Kegiatan dilaksanakan secara bersama oleh DPD Persagi Gorontalo, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, DPD Pergizi Pangan Gorontalo, Forum Peduli Makanan Tradisional, Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia Gorontalo.

Salam gizi digunakan oleh teman-teman sewarga Ahli Gizi, profesi lainnya atau siapapun dengan siapa saja. Ini sebagai bentuk promosi gizi dan kesehatan guna pencegahan dan penanganan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dalam bingkai persahabatan dan persaudaraan.

Digunakan pula saat saling menyapa antara satu warga Gizi dengan warga lain, dan antara siapa saja baik secara formal dan informal di ruangan (seminar, rapat, dll), dalam surat-surat atau tulisan. bertemu di jalan, dsb.  

Setelah menyampaikan salam kebiasaan dan dijawab (Assalamualaikum War. Wab. Jawabannya “Walaikumsalam War. Wab” atau Selamat Pagi yang jawabannya selamat pagi, baru dilanjutkan dengan Salam Gizi yang Jawabannya “Sehat Melalui Makanan” dengan kepalan tangan kanan yang bermakna kekuatan, bergizi, bersemangat). Semoga kita tergolong manusia yang sehat melalui makanan di dunia dan akhirat nanti. Bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin!!! Wassalamualaikum War. Wab. Salam Gizi.

Pustaka:

  1. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 35-36, ayat 233. Surat Muhammad Ayat 15. Surat Arrahman Ayat 54. Surat Ibrahim Ayat 16-17. Surat Al-Ghasyiyah ayat 6, Surat Ad-Dukhan ayat 45.
  2. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, 2008. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6. Pustaka Imam Asy-syafii. Jakarta
  3. Napu A. (2019). Ilmu Makan tertua dan Abadi.  https://gorontalo.kemenag.go.id/opini/434/ilmu-makan:-tertua-dan-abadi
  4. Almatsier S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − seven =

scroll to top