Remaja Sehat Bebas Anemia Melalui Makanan Tradisional

WhatsApp-Image-2021-01-25-at-14.58.59.jpeg

Oleh: Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gtlo, ASN BPBD Prov Gtlo.

(Selamat Hari Gizi Nasional ke-61, 25 Januari 2021)

Pemberian tablet tambah darah (TTD) pada remaja menjadi program yang harus dilengkapi dan program ini penting mengedepankan konsumsi makanan yang sesuai kebutuhan guna mencegah atau mengatasi anemia. Sekalipun mengkonsumsi TTD sesuai anjuran, namun konsumsi makanannya tidak mencukupi kebutuhan dan tidak berkualitas maka tetap saja terjadi anemia. Sebaliknya, sekalipun tidak mengkonsumsi TTD tetapi makanan yang dikonsumsi mencukupi kebutuhan dan adekuat maka dapat terhindar dari anemia. Remaja anemia berkesempatan sebagai generasi yang lemah dan akan meninggalkan generasi yang lemah pula.

Dasar teorinya terdapat dalam Alqur’an Surat An-Nisaa ayat 9 yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Makna lemah di sini yakni lemah ibadahnya, lemah pendidikannya, ekonominya, sosial, budaya, peradaban termasuk pula lemah karena bermasalah pada status gizi dan kesehatannya.

Remaja dalam pandangan religi adalah seseorang yang sudah aqil baliq yang ditandai: untuk laki-laki telah bermimpi basah dan wanita telah menstruasi (menarche: tanda kematangan sel telur yang tidak dibuahi) yang biasanya terjadi pada usia 11-13 tahun. Sel spermanya telah dapat membuahi dan sel telurnya sudah dapat dibuahi artinya sudah dapat hamil secara biologi, tetapi secara fisik, psikhis, sosial, belum siap untuk keadaan tersebut.

Kesiapan fisik seseorang tidak lepas dari status gizi dan kesehatannya, diantaranya tidak anemia. Orang yang anemia gizi besi (Fe) dapat ditandai dengan kondisi pucat, letih, lesu, lunglai, lalai. Selain itu secara labotaroium dan juga ditandai oleh kandungan Hb (Hemoglobin) darah  <12 g/dl (UNICEF/UNU/WHO 2001) yang menurut Briawan et al. (2011)  digolongkan sebagai anemia ringan (10,0 – 11,9 g/dl), sedang (7,0 – 9,9 g/dl) dan berat (<7,0 g/dl).     

Orang yang anemia berpengaruh pada sistem metabolisme tubuh diantaranya untuk metabolisme energi, kemampuan belajar, kekebalan tubuh, dll. Di dalam sel, zat besi bekerja sama dengan rantai protein pengangkut elektron, yang berperan dalam metabolime energi. Protein memindahkan hidrogen dan elektron yang berasal dari zat besi penghasil energi ke oksigen sehingga membentuk air. Dalam proses tersebut dihasilkan ATP (Adenosine triphosphate) untuk menyimpan dan mentranpor energi dalam sel;

Sebagian besar (80%) zat besi  berada di dalam hemoglobin (Hb). Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbon dioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Semua organ tubuh memperoleh zat-zat gizi yang tentunya akan digunakan untuk aktivitas. Menurunnya aktivitas kerja pada kekurangan zat besi karena berkurangnya enzim-enzim mengandung zat besi. Zat besi ini sebagai kofaktor enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme energi. Menurunnya Hb darah menyebabkan metabolisme energi di dalam otot terganggu dan terjadi penumpukan asam laktat yang menyebabkan rasa lelah;

Karena sistem peredarah darah berjalan dengan baik membuat energi tersendiri untuk otak seseorang. Konsumsi zat besi yang sesuai dapat memicu prestasi belajar. Oleh karena itu kadar besi otak yang kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat diganti setelah dewasa. Defisiensi besi berpengaruh negatif terhadap fungsi otak, terutama pada sistem neurotransminter;

Untuk kekebalan tubuh, besi memegang peranan penting.  Respons kekebalan sel oleh limposit-T terganggu karena berkurangnya pembentukan sel-sel tersebut yang kemungkinan disebabkan berkurangnya sintesis DNA karena gangguan enzim reduktase ribonukleotida. Selain itu ada juga enzim lainnya yakni mieloperoksidase terganggu fungsinya dan terkait dengan fungsi sel darah putih yang bertugas untuk menghancurkan bakteri. Keadaan ini bisa saja mempermudah penyakit infeksi masuk dalam tubuh termasuk Covid-19.

Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa indikator-indikator yang ada saling terkait, sehingga bila salah satunya tidak tercapai maka berpengaruh pada yang lainnya. Ditunjukkan dari Proporsi konsumsi makanan beragam pada anak umur 6-23 bulan sebesar 46,6% dapat bermakna kurangnya konsumsi zat besi dari makanan misalnya saja dari daging sapi, hati sapi, udang, ikan, telur termasuk dari unsur sayuran yakni bayam, daun kacang panjang. Ini pula didukung oleh proporsi Konsumsi buah dan sayur kurang dari 5 Porsi penduduk umur ≥ 5 tahun sebesar 95,5%.

Selanjutnya tabel juga menjelaskan Proporsi remaja putri mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) sebesar 76,2% belum memberikan maknanya karena anemia pada remaja justru masih 32% artinya ada 3-4 remaja dari 10 remaja yang anemia. Bila saat remaja banyak yang anemia, kedepannya akan terkait pula dengan kondisi kurang energi kronis (KEK) terutama pada wanita usia subur. Hal ini ditunjukkan oleh proporsi kurang energi kronis pada wanita tidak hamil sebesar 14,5% dan pada wanita hamil sebesar 17,3%.

Tabel, Beberapa Indikator Terkait Anemia Di Indonesia

Riskesdas Tahun 2018

IndikatorCakupan
Proporsi konsumsi makanan beragam pada anak umur 6-23 bulan46,6%
Proporsi Konsumsi buah dan sayur kurang dari 5 Porsi penduduk umur ≥ 5 tahun95,5%  
Proporsi Remaja putri mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)76,2%
Anemia Pada remaja32%
Proporsi kurang energi kronis (indikator KEK: lingkar lengan atas wanita usia subur 15-49 tahun <23,5 cm)14,5% wanita tidak hamil 17,3% wanita hamil
Proporsi anemia pada ibu hamil48,9%.
Sumber: Riskesdas 2018

Berawal dari rendahnya konsumsi makanan beragam, rendahnya konsumsi buah dan sayur sekalipun ditunjang konsumsi TTD pada remaja, namun anemia pada remaja tetap masih tinggi. Anemia pada remaja tentunya dapat berkelanjutan dampaknya berupa tingginya KEK pada wanita usia subur, yang bermuara pada kejadian anemia pada ibu hamil yang tinggi pula. Semuanya pasti memberikan resiko status kesehatan, dan juga bisa sampai pada terlahirnya kembali generasi yang bermasalah gizi dan kesehatan seperti stunting, gizi buruk, bisa berkembang menjadi obesitas, yang akan disertai berbagai penyakit infeksi dan penyakit degeneratif. Keadaan ini pasti memberikan produktivitas yang rendah sebagai daya saing tingkat global dan berpengaruh pada penghidupan yang layak.

Konsumsi zat besi harus dibarengi selain mengkonsumsi sumber protein hewani dan protein nabati (kacang-kacangan, tempe), penting pula mengkonsumsi vitamin C yang membantu meningkatkan penyerapan (absorpsi) zat besi misalnya dari buah-buahan. Bila anemia dalam taraf sedang sampai berat, sebaiknya menghindari zat-zat yang menghambat penyerapan zat besi diantaranya tanin (dalam teh, kopi), penggunaan suplemen kalsium, obat-obat yang bersifat basa seperti antasid.

Sekalipun dalam suasana Pandemi Covid-19, status kesehatan remaja yang bebas anemia melalui makanan yang dikonsumsi harus dibelajarkan secara masif, sistematis, terstruktur, berkesinambungan dan berkelanjutan pada semua lapisan masyarakat baik secara formal, non formal maupun informal. Pembelajarannya tentang bagaimana berperilaku  makan (mempunyai pengetahuan, sikap dan praktik) yang seimbang sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas yang bersumber dari makanan tradisional atau pangan lokal yang dimiliki oleh setiap suku atau daerah?

Dibutuhkan peran seluruh stakeholders yang takut meninggalkan generasi yang lemah dan akan beregenerasi umat manusia yang lemah pula serta berakibat melemahnya keluarga, bangsa dan negara. Oleh karena itu kehadiran negara sebagai penentu upaya menyehatkan bangsa yang bebas anemia melalui pengembangan dan pelestarian makanan tradisional atau pangan lokal bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat tetapi juga sektor lainnya yakni pendidikan, ekonomi, sosial, pariwisata, dan peradaban masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 18 =

scroll to top