Perut Sumber Penyakit dan Puasa Obatnya

WhatsApp-Image-2020-04-24-at-15.30.11.jpeg

Oleh: Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati masalah Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, PNS BPBD Provinsi Gorontalo

Rahasia manfaat puasa Ramadhan yang terungkap baru sebahagian kecil. Semoga dengan praktik puasa yang benar dan konsumsi makanan yang alami, halal, beragam, bergizi, berimbang, aman, sehat merupakan satu rahasia pembelajaran bahwa puasa dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Aamiin.

Menyimak pengertian bahwa sehat itu adalah suatu keadaan sempurna fisik, sosial dari seseorang dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO), maka orang yang dikatakan sakit adalah lawan dari keadaan sehat tersebut yakni sakit fisik, sakit mental/akhlak/jiwa dan sakit sosial.

Saat ini penyakit yang dapat dialami oleh fisik manusia meliputi (1). penyakit-penyakit menular langsung seperti Tuberkulosis (TBC), Infeksi saluran pernapasan akut, penyakit infeksi menular seksual dan HIV/AIDS, penyakit infeksi saluran pencernaan (diare, typoid) dan hepatitis/leaver; penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti malaria, kecacingan; penyakit yang ditularkan oleh binatang lainnya seperti rabies. (2). Penyakit tidak menular seperti penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker, penyakit diabetes mellitus (penyakit gula) dan gangguan metabolik. (3). Juga diperhadapkan pada Penyakit Infeksi Emerging (PIE) yakni penyakit infeksi yang bersifat cepat menyebar pada suatu populasi manusia, dapat berasal dari virus, bakteri atau parasit seperti penyakit flu burung (avian flu), penyakit virus ebola, penyakit virus zika, penyakit antraks, dll.

Diperhadapkan juga dengan penyakit yang belum ada obatnya termasuk vaksinnya yakni Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Penyakit ini tidak lain sangat terkait dengan kekebalan seseorang, sehingga bagaimana tubuh dapat memberikan perlawanan yang didasari oleh potensinya sendiri.

Adanya peningkatan masalah kesehatan mental/akhlak/jiwa baik pada anak, remaja dan orang dewasa sampai-sampai untuk membuat orang tidak mengamuk maka tidak sedikit penderita sakit jiwa yang harus dipasung sampai mati (orang dengan gangguan jiwa). Diperhadapkan juga dengan gangguan akhlak, seperti bertutur kata tidak sopan, menipu, memfitnah, menggunjing, sombong, angkuh, saling menghina, dll.

Diperhadapkan pada penyakit-penyakit sosial yang sangat merugikan umat manusia lainnya sebut saja tindakan fraud yang dilaksanakan dalam pelayanan kesehatan, korupsi, kolusi dan nepotisme, mencuri, mengkonsumsi napza serta penyakit sosial lainnya.

Antara fisik, mental/akhlak/jiwa dan sosial merupakan hal yang menyatu sehingga implementasinya harus bersama-sama. Tidak boleh dilaksanakan masing-masing sehingga tidak akan saling melengkapi ketika akan mencapai tujuan. Misalnya masalah perut yang terkait dengan penyakit diare yang disebabkan oleh entamoeba coli (E-Coli) akibat buang air besar di sembarangan tempat kemudian E-coli bercampur dengan makanan atau minuman. Untuk intervensinya segera diberikan pengobatan secara fisik yaitu dengan oralit dan zink, ditambah dengan obat-obatan lainnya sesuai dengan SOP. Mental/akhlaknya harus diintervensi pula dengan memberikan konseling kepada keluarga agar segera menyediakan jamban sehat di rumahtangganya masing-masing sebagai upaya pencegahan. Sementara secara sosial pembuatan jamban ini dapat dilaksanakan bergotong royong baik pendanaan dan pekerjaannya seperti melalui arisan jamban atau pinjaman lunak yang diberikan oleh koperasi. Dalam hubungan antara sesama manusia atau sosial, akan malu apabila hanya buang air besar (BAB) di tas pelastik kemudian dibuang di kebun, sungai, atau tempat lainnya yang berdampak bau tidak sehat dan tidak agamis. Pada akhirnya yang bersangkutan akan mengalami sehat secara fisik, mental/akhlak dan sehat secara sosial. (Mumpung bulan Ramadhan, tersering dana yang tersedia di tiap rumah tangga hanya untuk penyediaan kue-kue, kursi baru, baju baru, gorden baru (K2BG), dll. Sangat bijak jika dikurangi dulu penyediaan K2BG yang dialihkan untuk penyediaan jamban sehat di masing-masing yang belum ada jamban).

Dalam teori klasik namun termodern di alam kehidupan manusia dikatakan bahwa “Sumber dari penyakit adalah perut, selanjutnya bahwa perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu adalah obat” (Hadist Nabi Muhammad SAW riwayat Muslim). Kemudian bahwa hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya ( Al-Qur’an surat ‘Abasa ayat 24).

Pada Al-Qur’an dan Hadist yang sebelumnya, ternyata perut yang dimaksud adalah proses apa saja yang dimakan atau dimasukkan, proses pencernaannya, dan proses output serta dampaknya untuk kesehatan. Dan ini bila dihubungkan dengan teori sehat, maka sehat yang dimaksud bukanlah bebas dari penyakit fisik, namun bebas juga dari penyakit mental/akhlak/jiwa serta penyakit sosial.

Proses bagaimana memperoleh makanan merupakan hal yang penting diperhatikan apakah halal atau mungkin terkait dengan berbagai masalah ketidakhalalan. Ini tidak berhenti di situ saja, ketika makanan ini masuk ke mulut ada proses mekanik yang harus ditaati yakni melalui pengunyahan sebanyak 33 kali (para praktisi kesehatan bahkan menganjurkan lebih dari 33 kali) dengan tujuan lambung dan alat pencernaan lainnya akan menerima makanan tanpa harus diolah dengan kerja berat. Makanan dalam mulut sudah halus dan bercampur dengan berbagai enzim, sehingga mempermudah pula proses penyerapan zat-zat gizi. Ini dapat menurunkan beban kerja dari alat pencernaan sehingga ada penghematan energi/tenaga dan juga bersifat ekonomis. Hal lain juga yang menjadi perhatian adalah membagi perut menjadi 3 bagian yakni sepertiga untuk air, udara dan makanan. Dengan berpuasa, orang benar-benar mampu mempraktikkan makan disaat lapar dan berhenti sebelum kenyang apalagi pada saat berbuka puasa yang terpenting adalah pengendalian dari diri kita masing-masing.

Secara fisik bahwa puasa itu menyehatkan. Ini didukung dengan hasil-hasil riset yang terkait dengan kesehatan fisik antara lain: Puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh yang bermakna dapat mencegah berbagai penyakit infeksi; puasa dapat menurunkan produksi asam lambung yang berlebihan sehingga tidak memberatkan kerja lambung dalam mengolah makanan; puasa dapat membersihkan tubuh dari berbagai toksik/racun yang ada sehingga peran ini harus dimanfaatkan guna melahirkan kembali tubuh dengan kefitrahannya; puasa dapat membakar zat-zat gizi yang tersimpan dalam tubuh dalam bentuk kegemukan sehingga lemak terbakar dan menjadi seimbang; dll.

Tubuh yang puasa tidak makan dan tidak minum akan berpengaruh jelas pada mental/akhlak/jiwa dari setiap individu karena dalam puasa ada etika-etika kehidupan yang harus ditaati yang bernilai ibadah. Sebut saja yang sederhana adalah tidak boleh menggunjing orang lain, berkata jujur, berkata yang baik-baik, berfikiran positif tidak saling mencurigai, tidak menghina, dll. Etika-etika ini sebagai penunjang dalam mengontrol diri sehingga tidak melakukannya, dan ini terkait erat dengan zat-zat gizi terutama jumlah energi yang dikonsumsi. Bukankah dalam melakukan gunjingan, berbohong, berfikiran negatif pada orang lain, saling mencurigai, menghina adalah perbuatan yang membutuhkan pemikiran khusus sehingga membutuhkan energi yang tinggi pula? Sementara saat puasa energi yang ada sangat terbatas dari makanan yang dikonsumsi, apalagi hal tersebut berakibat pada penurunan nilai-nilai puasa. Ini juga dapat mencegah peningkatan tekanan darah (hipertensi) yang berakibat pada penyakit jantung, dapat menormalkan gula darah, dapat menekan emosi sehingga mampu mengelola stres yang menyerang setiap saat. Kondisi ini menunjang peningkatan kekebalan tubuh.

Orang berpuasa mau merasakan penderitaan orang lain, minimal merasakan bagaimana tidak makan dan minum dalam 14-15 jam sebagai rasa berbagi dengan orang miskin yang tentunya sering tidak makan. Merasakan penderitaan orang lain sangat terkait dengan kondisi seseorang yang sedang sehat secara sosial. Melalui pemahaman ini maka akan lahir sikap saling tolong menolong, berhati-hati terjerumus dalam lembah memperkaya diri sendiri ataupun memperkaya pihak lainnya atau hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang dikenal dengan istilah korupsi, kolusi dan nepotisme, menghindari fraud. Dengan perasaan yang kuat guna menghindari perbuatan yang menyebabkan sakit sosial, maka tentunya ini didorong oleh keadaan tubuh yang sedang menahan haus dan lapar yang mencegah penyaluran energi yang sia-sia karena hanya digunakan untuk perbuatan sia-sia pula.

Uraian sebelumnya dapat menjadi alasan penting ternyata puasa itu diwajibkan untuk semua umat yang beriman sehingga dapat mencapai ketakwaan kepada Allah SWT (Al-Qur’an Surat Al-baqarah 183). Kenapa harus orang beriman? Orang beriman berarti orang yang sedang sehat secara fisik, mental/akhlak/jiwa dan juga sehat secara sosial. Oleh karena itu kondisi tubuh yang sehat ini agar dapat bernilai lebih tinggi di hadapan sang khaliq, maka salah satu hal penting untuk mencapainya dapat ditingkatkan nilai-nilai ibadah selama bulan Ramadhan guna mencapai ketakwaan.

Bukti bahwa puasa dan amalan ibadah lainnya dipraktikkan dengan baik seperti terlihat pada diri Rasulullah SAW dan para umatnya. Rasulullah SAW dengan umur 63 tahun hanya menderita 2 kali sakit, dan dalam sebuah riwayat ketika datang para tabib untuk melihat kondisi umatnya, maka tidak satu orang pun ditemukan dalam keadaan sakit. Sesungguhnya, keadaan ini merupakan implikasi teori-teori religi dalam Al-qur’an dan Hadist yang merupakan teori paling canggih dan tiada tandingannya sepanjang masa. Olehnya penting dimulai saat ini dilakukannya pengkajian terhadap teori religi tersebut dan dipraktikkan dengan tujuan meningkatkan kemaslahatan umat manusia.

Akhirnya, mengapa kita harus berkiblat pada teori-teori yang tidak memberikan makna yang jelas bahkan mengacaukan, namun hanya unggul dalam publikasinya? Ini akibat dari kajian religi yang dilakukan hanya pada hal-hal rutinitas atau sepotong-sepotong, sehingga sangat penting untuk mengembangkan sebab musababnya hal-hal yang dimaksud bagaimana sampai terjadi. Mari berpuasa sebagai aktivitas ibadah yang berkualitas dan mengkonsumsi makanan yang alami, halal, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan (ada sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air) sehingga dalam meregenerasi sel-sel fisik, sel-sel kekebalan, sel-sel mental/akhlak/jiwa dan sel-sel sosial memberikan kualitas kesehatan dan mencapai fitrahnya pada 1 Syawal nanti.

Tidak lupa dalam masa wabah Covid-19 ini, selain memperhatikan makanan yang dikonsumsi juga mari berperilaku hidup bersih dan sehat (cuci tangan, olahraga, menjaga jarak dengan siapa saja, menghindari kerumunan, memakai masker, tetap berada di rumah), tidak menyentuh mulut, hidung, dan mata jika belum cuci tangan yang benar dan mengikuti anjuran-anjuran pemerintah. Semoga dengan praktik puasa yang benar merupakan satu rahasia pembelajaran bahwa puasa dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Ayoo! Berani berbuat baik untuk Indonesia. Bersama berkarya sebagai ibadah, Amiin.

Tulisan ini telah terbit dalam media lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + fourteen =

scroll to top