Penyebab Penyakit Selalu Terkait Kimia Makanan, Namun…

WhatsApp-Image-2023-07-02-at-22.20.10.jpg

Arifasno Napu, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI) Provinsi Gorontalo, Dosen Poltekkes Gorontalo

Oleh: Arifasno Napu*

“Salam Gizi”, (jawabannya) “Sehat Melalui Makanan”.

Diskusi orang tidak bersekolah, bersekolah, sarjana, magister, doctor, professor, pejabat bawahan dan atasan, bahkan para birokrat pemerintah tertinggi pusat dan daerah, politisi, pengusaha dan masyarakat umum lainnya menyatakan bahwa penyakit-penyakit yang diidap manusia sekarang ini terkait dengan apa yang dimakan setiap hari terutama yang sudah bercampur dengan kimia sintetik yang tidak berguna dan bahkan berbahaya.

Hari ini, sudah bertambah lagi tenaga kesehatan yakni dokter, dokter ahli, perawat, bidan, ahli gizi, apoteker, fisioterapi, ahli kesehatan lingkungan, laboran, sarjana kesehatan masyarakat, ahli obat tradisional, dan tenaga kesehatan lainnya. Selain itu bertambah bahkan menjamurnya fasilitas kesehatan sebut saja klinik keluarga, praktik dokter swasta, puskesmas pembantu (pustu), puskesmas, rumah sakit tipe D, C, B dan tipe A, toko obat, apotek, tempat pengobatan alternatif, posyandu, poskesdes, dan UKBM (tempat upaya-upaya kesehatan berbasis masyarakat). Mengapa orang sakit malah bertambah banyak? 

Ketika seseorang mengidap penyakit, harapannya agar besok segera sembuh, atau pekan depan bahkan paling lama bulan depan. Misalnya saja penyakit Diabetes Mellitus, penyakit ginjal, penyakit jantung, penyakit kanker, dll. Demikian pula penyakit infeksi seperti kusta, tuberculosis paru, hepatitis, dll. Namun tidak disadarinya bahwa kejadian penyakit tidak lepas dari berbagai sistem dalam faktor pencetus dengan proses yang bukan terjadi seketika. Ini juga terjadi pada masalah generasi yang pendek atau stunting, obesitas, kelainan kongenital atau bahkan lematian bayi dan ibu melahirkan.

Masyarakat sering dan bahkan mengkambinghitamkan bahwa penyebab penyakit hari ini adalah makanan yang dikonsumsi setiap hari. Masyarakat bersekolah maupun tidak bersekolah, professor, pejabat rendahan dan atasan, pemerintah pusat dan daerah, pengusaha dan masyarakat umum menyatakan bahwa jumlah penderita penyakit yang semakin banyak dikarenakan apa yang dikonsumsinya adalah tidak alami lagi. Bahkah lanjut mereka bahwa makanan sekarang sudah banyak bercampur dengan bahan kimia yang sintetik dan berbahaya. Demikian pernyataan yang diutarakan baik pada pertemuan formal, non formal maupun informal.

Sejak persiapan produksi bahan makanan seperti pada pengolahan lahan pertanian sudah menggunakan tindakan dan bahan-bahan yang tidak alami. Saat penanaman, telah menggunakan bibit-bibit rekayasa sehingga harus menggunakan pupuk yang telah direkayasa pula? Ketika di panen, penanganan pasca panen atau sesudah panen telah banyak menggunakan bahan-bahan yang bertujuan untuk mencegah pembusukan hasil panen bahkan menggunakan pengawet mayat yakni formalin. Tidak berhenti di situ, ternyata pada saat pengolahan bahan makanan untuk menjadi makanan masih pula didramatisasi atau direkayasa dengan bahan-bahan kimia sintetik apakah penambah rasa, aroma, warna, tektur, daya simpan, dll.

Dengan gaji atau pendapatn masyarakat yang rendah dan ada pendapatnnya > 90% bahkan ada keluarga yang semua pendapatannya hanyalah untuk biaya makan. Tentunya, dengan pendapatan yang rendah maka masyarakat akan mencari makanan yang murah tanpa mempertimbangkan kualitas makanan yang dikonsumsi, dengan prinsip “yang penting makan asal bisa kenyang”. Kualitas makanan yang rendah bisa terdapat pada makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah. Akibatnya, berdampak negatif terhadap jumlah konsumsi makanan setiap hari dan belum sesuai dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi setiap individu.

Hasil kajian yang dilakukan pada lansia >65 tahun yang berjumlah 120 orang terhadap pertanyaan “mengapa sekarang anda terlihat sehat dan bugar? Jawaban mereka adalah bahwa mereka sehat, bugar dan umur panjang karena mengkonsumsi makanan tradisional/ yang tidak ada campuran bahan kimia sintetik seperti: memakai bumbu-bumbu penyedap, pewarna, pemberi aroma, pengawet, dll, Napu A 2013. Sejatinya, ini menjadi dasar tindakan penting dalam memelihara dan mencapai derajat kesehatan seseorang.

Tetapi mengherankan bahwa, pernyataan masyarakat tentang faktor makanan yang berpengaruh sehingga mudahnya mengidap berbagai penyakit menjadi perhatian yang kurang membanggakan. Karena secara politik, bila berbicara berbagai keuntungan masyarakat dari makanan yang dikonsumsi setiap hari, maka ini dianggap kurang menguntungkan? Sementara dampaknya malah sangat merugikan bahkan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mencegah dan meanggulanginya. Oleh karena itu pernyataan-pernyataan yang disampaikan masyarakat mengapa bukan menjadi prioritas untuk penanganan berbagai masalah gizi dan kesehatan? Apakah penanganan yang dilakukan di tingkat rumah tangga, keluarga, institusi sekolah, institusi pemerintah/swasta telah menunjang status gizi dan kesehatan termasuk pencegahan pendek atau stunting?

Karena tidak diperhatikan konsumsi makanan, memberikan dukungan penuh terhadap permasalah gizi dalam bentuk kekurangan bahkan kelebihan gizi. Kekurangan dan kelebihan gizi pada semua lini atau siklus hidup menjadi penyebab terjadinya berbagai faktor yang mendukung timbulnya berbagai penyakit yang sifatnya permanen.       

Sekarang, mengapa masyarakat tidak mengkonsumsi makanan yang alami dan tidak mengandung zat-zat kimia sintetik, sementara lahan pertanian di Republik Indonesia sangat luas dan memadai? Bisa saja jawabannya adalah karena harga makanan alami adalah sangat mahal dan tidak terjangkau atau bahkan karena makanan tersebut tidak tersedia dalam pasaran?

Adanya peran pemerintah yang diberikan kepada masyarakat adalah bukti bahwa hadirnya negara dalam kebutuhannya. Namun sejauh mana pula masyarakat memahami dan mempraktikkan konsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhannya sehari-hari? Semua diyakini dan dipercaya bahwa konsumsi makanan yang halal (muslim) dan baik (alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan) berperan untuk keturunan manusia dan secara religius adalah menjadi keharusan.

Bagaimana kontribusi pemerintah dan semua pihak agar terjadi ketersediaan bahan makanan dan makanan yang halal dan baik? Apa saja usaha-usaha yang telah dilakukan oleh masyarakat secara individu maupun institusi; apa saja yang telah dilakukan pemerintah bersama pihak swasta dan masyarakat menyikapi pernyataan-pernyataan bahwa hari ini banyak orang mudah mengidap penyakit karena makanan yang dikonsumsi adalah mengandung kimia sintetik? Apa yang dilakukan oleh masyarakat untuk menyikapi pernyataan mereka sendiri tentang pentingnya mengkonsumi makanan yang berkualitas? Apa yang dilakukan pemerintah agar pembelian makanan yang halal dan baik dapat dijangkau oleh masyarakat?

 Bagaimana pemerintah, swasta dan masyarakat bergandengan tangan menyikapi dengan kebijakan yang sustainable atau berkesinambungan tentang penciptaan perilaku konsumsi makanan di masyarakat yang sesuai? Bagaimana pemerintah bersama politisasi yang berperan untuk mencerdaskan masyarakat guna memahami begitu pentingnya pola hidup dan pola makan yang dimiliki oleh masyarakat?  

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini diantaranya adalah pentingnya penanganan secara sistem yang didasari regulasi yang berencana terutama menciptakan perilaku konsumsi makanan yang baik pada masyarakat. Perilaku bisa terbentuk bila ada pengetahuan yang ditanamkan; sehingga memberikan hasil berupa sikap yang kuat untuk dilakukannya; pada akhirnya bila sudah ada pengetahuan dan telah bersikap maka lahirlah praktik-praktik konsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan. aktivitas, status gizi dan kesehatan. Sistem ini harus dibangun sejak usia dini, saat di sekolah bahkan diperguruan tinggi termasuk pembelajaran yang diberikan pada orang dewasa dalam bentuk penyuluhan dan demonstrasi pembuatan makanan yang halal dan baik. Semoga tulisan ini bermanfaat, bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin. Salam Gizi.

*Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo,  Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI) Provinsi Gorontalo, Dosen Poltekkes Gorontalo.

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

One Reply to “Penyebab Penyakit Selalu Terkait Kimia Makanan, Namun…”

  1. Artikel yang sangat bagus, untuk info penyakit bisa dibaca :
    Cari Penyakit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + eight =

scroll to top
Bahasa »