Makanan Itu Jujur, Namun “Dibohongi” Manusia?

WhatsApp-Image-2022-04-30-at-15.41.14.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pengamat Gizi dan Kesehatan. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gorontalo, Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesi (YAMMI), Dosen Poltekkes Gorontalo.

Salam Gizi!!! “Sehat Melalui Makanan”

Makanan mencakup bentuk padat dan cair. Dia selalu jujur untuk tubuh kita ketika dikonsumsi. Manusialah  yang “membohonginya” untuk manusia. Jadi, kejujuran apa yang diberikannya untuk manusia dan kebohongan apa yang dilakukan manusia padanya serta apa akibatnya?

Bila mengkonsumsi durian rasanya pasti durian; Bila mengkonsumsi apel, rasanya apel; Bila mengkonsumsi stroberi pasti rasanya stroberi; Bila mengkonsumsi buah naga pasti ada warna, aroma dan cita rasa buah naga; Bila mengkonsumsi  ikan tuna,  rasanya ikan tuna; Bila mengkonsumsi daging kambing, rasanya daging kambing; Bila mengkonsumsi daging ayam rasanya daging ayam; Bila mengkonsumsi telur rasanya pasti telur; Bila mengkonsumsi sayur kangkung atau wortel pasti rasanya kangkung atau wortel; Jika yang dikonsumsi jahe pasti rasanya jahe; Bila mengkonsumsi  cabe,  rasanya cabe;  dan berbagai kejujuran makanan yang memberi warna, aroma, cita rasa, dan zat-zat gizi untuk tubuh manusia. Semuanya itu adalah  bukti kejujuran makanan.

Sementara “kebohongan” yang diberikan manusia untuk manusia diantaranya?: Minum minuman dengan rasa asam, namun tidak ada jeruk dalam minuman; Minum jus apel tapi tidak ada apel; Minum jus aroma nangka tapi tidak ada nangka di dalamnya; Minum minuman gelas yang berwarna-warni dengan aroma, rasa manis dan keasaman tapi tidak menggunakan gula pasir dan jeruk; Minum minuman bersoda rasa jeruk, namun tidak ada jeruk yang digunakan; Makan kue dadar dengan warna, aroma dan rasa pandan namun sayang sekali tidak ada pandan yang digunakan; Makan bakpao dengan aroma dan rasa durian namun tidak ada durian; Menggunakan saos tomat dengan warna, aroma dan rasa tomat, tetapi tidak ada satu buah tomat yang digunakan; Membumbui makanan dengan kecap, tetapi kecap bukan dari kedelei; Mengkonsumsi sup ayam, namun tidak ada ayam dalam supnya; Tidak ada kunyit, tapi ada warna kuning pada tahu; dan lain sebagainya.

Bukti kejujuran makanan dan “kebohongan” manusia padanya antara lain?: terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan termasuk stunting dan obesitas; Terjadi peningkatan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare, infeksi pada organ hati, ginjal menjadi sakit secara akut dan kronis sampai pada tindakan harus cuci darah (hemodialisa), peningkatan masalah diabetes mellitus, stroke, kanker, dll.

Melalui aktivitas yang seimbang, olahraga, berpuasa, tubuh menjadi sehat. Namun karena tubuh diberikan makanan instan dan tidak baik atau makanan yang “dibohongi” manusia? Maka terjadilah berbagai gangguan sistem tubuh akibatnya diperolehlah  “sakit melalui makanan”.

Rendahnya perilaku makan dan minum yang halal (muslim) dan baik (alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan) dari jenisnya, jumlahnya dan frekwensinya dibutuhkan kehadiran pemerintah guna melindungi segenap bangsa Indonesia sebagai bentuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Rangkaian kerjasama pemerintah, pihak swasta dan masyarakat harapannya Indonesia Maju, bukan cerita belaka, bukan angan-angan, bukan mimpi semata, atau “kebohongan”  dalam kenyataan.

Konsumsilah makanan yang jujur dan tidak “dibohongi” oleh manusia?, yang seimbang dengan aktivitas dan olahraga, serta berpuasalah agar kita memperoleh “sehat melalui makanan”. Semoga kita selalu diberikan petunjuk kebaikan oleh Allah SWT dalam kebenaran yang rasional dan ilmiah. Bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin.

Salam Gizi!!! “Sehat Melalui Makanan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − 13 =

scroll to top