Lawan dan Temukan Penderita, Saatnya Gorontalo Bebas TBC

WhatsApp-Image-2019-03-26-at-09.37.39.jpeg

Peringatan Hari TBC Sedunia di Kabupaten Gorontalo, Minggu (24/03/2019)

Kabupaten Gorontalo, Dinkesprov – Penderita Tuberkulosis atau TB/TBC di Indonesia masih tinggi. Dari data WHO Global TB Report 2017 memperkirakan jumlah kasus TB sebanyak di Indonesia masih sekitar 1.020.000 kasus serta mortalitas TB 110 ribu kasus.

Angka ini disampaikan Menteri Kesehatan, Prof. Nila Moeloek pada pertemuan akselerasi menuju Indonesia Bebas TB beberapa waktu lalu dan dimuat lagi dalam laporan Rakerkesnas 2018 mengenai Percepatan Eliminasi Tuberkulosis pekan lalu. Pembahasan mengenai TBC berkaitan dengan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh pada hari Sabtu (24/3).

Tuberkulosis atau TB/TBC sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman myobacterium tubercolosis. Kuman ini akan menyerang tubuh terutama pada paru-paru. Kuman TB yang keluar akan terhirup orang lain melalui saluran pernapasan.

Setiap penderita TB akan merasakan gejala berupa batuk yang berlangsung lama, penderita TBC juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti: Demam, Lemas, Berat badan turun, Tidak nafsu makan, Nyeri dada, dan Berkeringat di malam hari.

Di Gorontalo berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, penemuan penderita TB mengalami peningkatan di tahun 2018. Hal ini sangat baik untuk dapat melakukan intervensi untuk pengobatan TB agar tidak dapat menularkan pada masyarakat lainnya. Eliminasi TB terus digenjot hingga saat ini.

Di tahun 2017 angka kasus TB tercatat sebanyak 1.293 kasus. Serta ada temuan baru pada tahun 2018 yang mencatatkan jumlah penderita TB menjadi 5.182 kasus. Dengan rincian Boalemo 691 kasus (316 sudah diobati), Bone Bolango 684 kasus (603 sudah diobati), Kabupaten Gorontalo 1.656 kasus (1.386 sudah diobati), Gorontalo Utara 477 kasus (251 sudah diobati), Kota Gorontalo 1.010 kasus (709 sudah diobati) dan Pohuwato 664 kasus (388 sudah diobati).

Sejalan dengan itu, Dinas Kesehatan provinsi Gorontalo juga intens melakukan pengobatan kepada penderita TB yang ditemukan. Memberi pelatihan kepada petugas TB di kabupaten/kota serta melatih petugas kesehatan di Puskesmas se Provinsi Gorontalo.

Di tahun 2017, dari 1.293 kasus TB di Gorontalo, sudah dilakukan intervensi pengobatan kepada 1.258 penderita. Artinya cakupan sukses rate (penyembuhan) mencapai 97.29 persen. Sementara di tahun 2018, dengan banyaknya temuan baru yang mencapai 5.182 kasus. Dinas Kesehatan sudah melakukan pengobatan kepada 3.653 penderita yang artinya 70,49 persen penderita tersebut sudah terobati.

Wakil Supervisor penanggulangan TBC, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dolvi Sumarauw, SKM mengungkapkan bahwa penderita TB di Gorontalo berfluktuasi. Di tahun 2018 angka cakupan penemuan kasus yang diperoleh dari kabupaten/kota naik. Penemuan kasus baru ini baik untuk mengintervensi penderita tersebut. Jika penemuan baru tidak ditemukan, maka akan memberi dampak buruk yang lebih besar lagi kepada masyarakat Gorontalo.

“Untuk tingkat kesembuhan, ada kabupaten/kota belum memenuhi standar nasional. Seperti Boalemo, Pohuwato dan Kabupaten Gorontalo Utara. Namun untuk penemuan kasus kita tinggi. Dengan begitu kita bisa melakukan intervensi di tahun 2019 ini untuk melakukan pengobatan yang lebih banyak lagi di tahun ini,” kata Dolvi Sumarauw, SKM.

Sementara itu, peringatan TB Day yang jatuh pada 24 Maret, Kabupaten Gorontalo secara semarak memperingati peringatan TB Day ini. Menurut Nelson peringatan Hari TBC sedunia bertujuan membangun kesadaran masyarakat mengenai TBC. Sebab, TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia. Termasuk di Indonesia.

“TBC harus menjadi musuh kita bersama. Sehingga setiap orang untuk menyadari bahwa TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab setiap individu,” kata Nelson.

Nelson berharap, peran serta masyarakat dalam memerangi TBC bisa ditingkatkan. Termasuk mengendalikan penularan TBC di wilayah Kabupaten Gorontalo.

“TBC musuh kita bersama. Ayo perangi dan lakukan deteksi dini penularannya,” imbau mantan Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu. (TIKm/gps)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 17 =

scroll to top