Konsumsi Tablet Tambah Darah, Cegah Anemia Pada Remaja Putri

WhatsApp-Image-2019-01-25-at-14.12.28.jpeg

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB, dr. Rosina Kiu

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Tingginya kasus anemia yang terjadi kepada remaja putri dan ibu pasca melahirkan. Di momen Hari Gizi Nasional 2019, Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan, mengimbau kepada seluruh perempuan di Goronntalo agar rutin mengkonsumsi tablet penambah darah.

Upaya ini dilakukan untuk memperbaiki gizi wanita serta meminimalisiasi perempuan muda mengalami anemia.

Remaja putri yang anemia kemudian hamil berpotensi akan melahirkan bayi dengan tubuh pendek (stunting) atau berat badan lahir rendah (BBLR).

Di dalam tablet penambah darah tersebut terdapat zat besai yang merupakan salah satu zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Bahkan sebelum hamil, wanita direkomendasikan untuk mencukupi kebutuhan zat besinya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr. Rosina Kiu mengungkapkan bahwa sejauh ini dinas Kesehatan sering memberikan konseling dan edukasi kepada remaja putri pentingnya mengkonsumsi tablet penambah darah.

Sebab dengan rutin mengkonsumsi tablet penambah darah, maka akan memberi dampak positif ketika putri tersebut menjadi seorang ibu dan hamil. Kondisi tubuhnya akan berada dalam keadaan terbaik, HB akan berada pada posisi normal.

“Yang terjadi saat ini banyak remaja putri kita yang anemia. Begitu juga dengan ibu-ibu hamil yang terkena anemia. Itu karena sejak dini mereka tidak mengkonsumsi tablet penambah darah,” ucap dr. Rosina Kiu.

Untuk saat ini dikatakan dr. Nina (sapaan akrab dr. Rosina) bahwa penyediaan tablet tambah darah yang kini berada Dinas Kesehatan dalam keadaan cukup bahkan lebih.

“Kami berharap agar masyarakat mau untuk mengkomsumsi tablet tambah darah ini. Khususnya masyarakat sasaran, diantaranya remaja putri dan ibu hamil. Jangan tablet tambah darahnya diambil di puskesmas, tapi tidak diminum. Kondisi seperti itu yang terjadi di Gorontalo,” kata Rosina.

“Sehingga dari hasil Rikesdas, cakupan tablet tambah darah tinggi, namun anemianya juga ikut tinggi. Artinya masyarakat banyak yang mengambil tablet tambah darah, tapi tidak mengkonsumsinya. Nah, ini harus dirubah untuk menjaga kondisi kesehatan kita,” tandas dr. Nina. (TIK/gps)

Tim INFOKOM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 + 16 =

scroll to top