Kasus Suspek Antrax, Dinkes Provinsi Turunkan Tim Investigasi

IMG-20200117-WA0034.jpg

Penyelidikan Epidemiologi Kasus Suspek Antrax yang dirawat di klinik Mirah Kota Gorontalo terhadap warga Desa Talumelito kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo oleh Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten Gorontalo dan Puskesmas Telaga Biru, Jum'at (17/01/2020).

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Tim Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo melakukan Penyelidikan Epidemiologi kasus suspek antrax di Klinik Mirah Kota Gorontalo, Jum’at (17/01/2020).

Hal itu berdasarkan laporan pegawai Klinik Mirah bahwa pada tanggal 16 Januari 2020 sementara dirawat seorang pasien laki-laki inisial BD (37) dengan pekerjaan peternak dan pedagang sapi dengan diagnosa suspek antrax. Pasien ini berasal dari desa Talumelito Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo.

Saat investigasi, tim Dinas Kesehatan Provinsi dari seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dan seksi Surveilans dan Imunisasi (Surim) serta tim Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo melakukan pengambilan spesimen berupa spesimen serum darah dan apusan luka di tangan.

Pengambilan spesimen oleh petugas kesehatan

“Spesimen akan di kirim ke laboratorium BALITVET (Balai Besar Penelitian Veteriner) Bogor untuk mendapatkan kepastian atas bakteri yang menyerang penderita” ungkap Nangsih Pooe Epidemiolog Ahli Pertama saat melakukan investigasi.

Investigasi ke desa Talumelito juga telah dilakukan untuk mencari sumber penularan dan adanya kasus tambahan yang belum terlaporkan.

“Selanjutnya tim Dinkes Provinsi telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakn Provinsi Gorontalo dan Dinas Peternakan Kabupaten Gorontalo terkait penanganan hewan ternak yg terindikasi bakteri antrax” kata Nangsih.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menghimbau kepada masyarakat yang memiliki hewan ternak agar selalu diperiksa kesehatannya dan melakukan vaksinasi sebagai bentuk upaya pencegahan penularan antrax melalui hewan ternak.

Nangsih juga mengungkapkan hambatan yang ditemui dimana penderita masih takut diperiksa petugas kesehatan jika mengalami gejala seperti antrax terkait dengan dugaan, mereka khawatir penyakit tersebut dapat menghambat pekerjaan mereka apalagi sebagai pedagang hewan ternak.

Rilis : MD
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 + 14 =

scroll to top