JRA OT Diharapkan Meningkatkan Upaya Pencegahan Penyakit Sejak Dini

WhatsApp-Image-2023-03-28-at-17.21.38.jpg

Pelatihan Penilaian Risiko dengan menggunakan Joint Risk Assessment Operasional Tool (JRA OT).

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Dalam rangka peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam melakukan penilaian risiko dengan menggunakan Joint Risk Assessment Operasional Tool (JRA OT), Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Universitas Gajah Mada melaksanakan Pelatihan Penilaian Risiko Bersama Menggunakan JRA OT Tingkat Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini melibatkan peserta dari berbagai unsur antara lain Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BKSDA Sulawesi Utara Seksi Gorontalo serta Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Dalam sambutannya saat pembukaan kegiatan, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Janni S. Kiai Demak di hotel Grand Q, Kota Gorontalo, Selasa (28/03/23), menyambut baik pelatihan tersebut. Menurutnya ini sangat penting untuk meminimalkan risiko dari suatu penyakit sehingga upaya pencegahan dapat dimaksimalkan di kemudian hari.

“Jadi tidak hanya berbicara respon di dalam rangka penyelesaian persoalan, tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana persiapan dan pencegahan dilakukan. Jadi bukan hanya berbicara pada saat sudah terjadi kasus,” ujar Janni.

Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Janni S. Kiai Demak saat membuka pelatihan Penilaian Risiko dengan menggunakan Joint Risk Assessment Operasional Tool (JRA OT)

Lebih lanjut dijelaskan Janni bahwa saat ini di tingkat nasional dan global, penyakit infeksi emerging muncul dari waktu ke waktu dan menjadi perhatian. Munculnya infeksi emerging ini terkait dengan beberapa hal, antara lain faktor perilaku manusia yang sangat dinamis serta faktor peningkatan transportasi, globalisasi, perdagangan dan informasi serta perubahan iklim juga akan mempengaruhi lingkungan dan tentunya memicu perubahan-perubahan yang berkaitan dengan mikroorganisme sendiri maupun ketahanan tubuh kita sebagai manusia.

“Disamping itu faktor lainnya adalah hal yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan yang berdampak pada meningkatnya intensitas interaksi antara hewan dan manusia,” pungkas Janni.

Kegiatan yang juga didukung sepenuhnya oleh WHO dan FAO ini dilakukan secara blended, dimana pelaksanaan secara daring sudah diselenggarakan sebelumnya pada tanggal 20 – 21 Maret 2023 dan dilanjutkan pertemuan secara luring dari tanggal 28 hingga 30 Maret 2023.

Rilis : MD/ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + 10 =

scroll to top
Bahasa »