JCH Harus Memenuhi Istithaah Kesehatan Sebelum Keberangkatan

WhatsApp-Image-2020-03-13-at-08.30.49.jpeg

Kabid P2P Reyke Uloli didampingi Kasubdit Penyuluhan dan Pembinaan Kesehatan Haji dr. Muhamad Imran dan Kasie Surim Erni Mansur saat membuka Penguatan Sistem Informasi Kesehatan Haji, Kamis (12/03/2020) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi Jemaah Calon Haji (JCH) adalah Istithaah Kesehatan. Hal itu disampaikan oleh dr. Muhamad Imran, MKM Kasubdit Penyuluhan dan Pembinaan Kesehatan Jemaah Haji Kementerian Kesehatan Republik Indonesia saat diwawancarai pada kegiatan Penguatan Sistem Informasi Kesehatan Haji, Kamis (12/03/2020) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo.

“Mengapa harus memeriksakan kesehatan sebelum berangkat karena salah satu syarat untuk melakukan pelunasan adalah memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan oleh tim pemeriksa kesehatan kabupaten kota” ungkap Muhamad.

Muhamad mengungkapkan, jumlah Jemaah Indonesia cukup banyak yang paling besar kalau dibandingkan dengan negara lain tahun lalu yang kita salah satu penyumbang kematian.

“Kita upayakan supaya tidak ada yang wafat di sana ataupun kita bisa meminimalisir dengan pemeriksaan kesehatan sebelum berangkat kesehatan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan kesehatan penyuluhan itu berlanjut bukan cuma di tanah air saja nanti pada saat di Arab Saudi juga ada tim kita yang melakukan penyuluhan kemudian juga untuk pelayanan rawat inap di klinik Indonesia di Arab Saudi” ucapnya.

Kasubdit Penyuluhan dan Pembinaan Kesehatan Haji dr. Muhamad Imran saat diwawancarai media

Selain itu, jumlah kematian jemaah haji mencapai 453 orang kebanyakan yang adalah kelompok usia lanjut diatas 75 tahun ke atas yang paling banyak kemudian juga Jemaah yang memiliki penyakit penyerta yang sudah dibawa dari tanah air.

“Salah satu pemicu yang menyebabkan Jemaah kita banyak wafat dan sakit dirawat di Arab Saudi itu karena satu kelelahan dan dehidrasi dua faktor yang paling banyak menyebabkan kita sakit sehingga kemudian dirawat atau wafat kelelahan itu akibat aktivitas fisik yang berat dan kurang istirahat yang kedua dehidrasi ini penyebabnya karena cuacanya panas di sana kemudian juga cuma kurang minum air” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Reyke Uloli, SKM., M. Kes., mengatakan dengan asumsi Jumlah jemaah 974 orang, Reyke meyakini semua dapat melakukan pemeriksaan dan pembinaan kepada Jemaah.
“Oleh karenanya jangan lupa untuk diinput di Siskohatkes” kata Reyke saat membuka acara.

Dalam hal menentukan kriteria Istithaah dengan pendampingan orang, wajib terus melakukan koordinasi dengan mitra kita di Kementerian Agama tentang pendamping baik kepastian untuk menjadi pendamping maupun kondisi Istithaahnya.

“Sebelum jemaah yang bersangkutan ditentukan status istithaah agar tidak ditemukan lagi jemaah dengan status istithaah pendampingan orang tetapi setelah sampai di Arab Saudi pendampingnya tidak ada” pungkasnya.

Rilis : MD
Editor :Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 − 4 =

scroll to top