Indonesia Darurat Mengajar Gizi dan Sehat

IMG-20191124-WA0014.jpg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati masalah Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di UNG dan Kampus Swasta Lainnya, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia Gorontalo, Staf di Seksi Dinkes Prov Gtlo.

(Selamat Hari Guru 25 Nopember 1945 – 25 Nopember 2019)

Apakah berbagai penyakit menular dan penyakit tidak menular yang telah memberatkan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara terbukti dengan menjeritnya BPJS Kesehatan merupakan penjajahan yang terstruktur, sistematis, masif dan berkesinambungan yang sengaja melemahkan generasi bangsa? Dasar teorinya dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa ayat 9 yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Indonesia sedang menjerit dengan banyaknya permasalahan kesehatan yang terjadi ditandai oleh sangat beratnya beban yang dialami BPJS Kesehatan, sehingga pemerintah harus menambah dananya, harus ditambah dari cukai rokok, harus ditambah juga dari APBD. Harus pula ditambah dari beban masyarakat dengan mengurangkan jumlah penerima bantuan iuran (PBI) pada semua lini masyarakat, ditambah pula dengan peningkatan iuran BPJS Kesehatan pada masyarakat sebagai peserta mandiri. Pertanyaan yang sederhana dan selalu diungkapkan oleh pelaku kesehatan dan juga masyarakat adalah mengapa sistem pelayanan asuransi kesehatan (askes) yang dahulu telah berjalan baik tidak disempurnakan malah diganti dengan yang mendatangkan masalah?

Dana kesehatan yang disediakan oleh APBN, APBD Provinsi, APBD Kab/kota yang semula di bawah 5-10%, namun saat ini sudah ada yang melebihinya. Jika dipilah-pilah masih lebih banyak pembagiannya yang berorientasi pada fisik untuk tindakan yang menjawab pertanyaan bagaimana orang sakit bisa sehat yang besarannya bisa lebih 80% dari dana yang tersedia, sementara sisanya hanya sekitar 20% untuk kegiatan menjawab pertanyaan bagaimana orang sehat dijadikan tetap sehat. Semua pembiayaan ini bisa saja diluar dari pembiayaan khusus APBN untuk BPJS Kesehatan, sehingga sesungguhnya begitu besar dana hanya untuk menjawab bagaimana orang sakit jadi sehat? Ini menjadi fokus semua menteri kesehatan RI dari dulu termasuk MenKes Kabinet Presiden Djoko Widodo jilid satu dan dua yang mau mengembalikan fungsi puskesmas. Namun apa kenyataannya, arus deras upaya menjawab pertanyaan bagaimana orang sakit jadi sehat, sulit untuk dipilah-pilah dalam keseimbangan kebijakan, pendanaan, tenaga, sarana prasarana, program, penerapan di lapangan, dll?

Sesungguhnya, sangat mumpuni ilmu kesehatan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, ahli gizi, apoteker, ahli kesehatan lingkungan, analis, dll) di Indonesia, namun ilmu-ilmu ini hanya berkembang baik di universitas atau perguruan tinggi, dimiliki oleh individu-individu tenaga kesehatan, juga yang lebih aneh bahwa sangat banyak sosialisasi-sosialisasi tentang kesehatan dilaksanakan dihadapan tenaga kesehatan. Harapannya, ilmu kesehatan ini hanya tersusun di brain tenaga kesehatan dan tidak tersalurkan sampai ke pikiran lapisan bawah baik dari anak PAUD, SD, SLTP, SLTA sampai pada mahasiswa unum atau masyarakat lainnya.

Akibatnya, berbagai penyakit menular tidak terselesaian atau tidak menurun angka kejadiannya sebut saja TBC, HIV/AIDS, Kusta, demam berdarah, termasuk penyakit emerging lainnya. Demikian juga telah ditopang lagi dengan berbagai penyakit tidak menular yang prevelensinya terjadi peningkatan terus sebut saja penyakit jantung, stroke, hipertensi, kanker, gagal ginjal sampai pada kondisi hemodialisa, peningkatan diabetes mellitus, peningkatan stroke, gangguan kesehatan jiwa, peningkatan obesitas pada semua lapisan terutama pada anak sekolah.

Hari ini untuk memberikan penyelesaian pada anak pendek, gizi buruk, stunting, gizi lebih banyak diberikan melalui makanan pendamping air susu ibu pabrikan, termasuk untuk ibu hamil dan ibu menyusui. sementara Indonesia mempunyai makanan tradisional yang tersebar pada 1128 suku di Indonesia? Bukankah ini menjadi masalah besar dan membuat orang akan bergantung pada makanan tersebut karena telah terjadi pembiasaan mengkonsumsi makanan pabrikan ini. Selain itu ketergantungannya masyarakat yang akan selalu berharap ataupun hanya lebih mengakui makanan dari luar daerah adalah sangat baik. Bukankah ini hanya membuat kemandirian dan perekonomian tidak berkembang baik dan membuat masyarakat kesulitan pendapatannya? Jika sudah terjadi ketergantungan sementara makanan ini bukan substansi eksistensi kebutuhan masyarakat karena bukan berasal dari lokal maka pasti memberikan beban pada masyarakat? Sangatlah cocok, makanan pabrikan ini diberikan untuk antisipasi yang sementara pada wilayah bencana karena tidak mungkin mereka bisa mandiri untuk mengelola makanan lokal sementara sedang dilanda bencana. Kasihanilah rakyat, agar tidak dibebani dengan permasalahan besar yang akan terjadi pada masa yang akan datang yang hanya karena sebuah kepentingan berkeuntungan yang tidak seimbang dan sesaat.

Sudah banyak yang bertambah untuk proses pelayanan kesehatan yakni jumlah tenaga kesehatan, jumlah rumah sakit, jumlah peralatan canggih, apotek-apotek, jumlah puskesmas, jumlah pustu, jumlah posyandu, jumlah poskesdes, jumlah posbindu, jumlah kader terlatih. Ini ditopang pula oleh program-program yang dianggap canggih-canggih bahkan tidak sustainable, sehingga proses evaluasi dan kajiannya banyak yang didasari oleh pengalaman dari luar negeri yang dianggap sangat hebat tetapi apakah cocok diterapkan di Indonesia?

Sudah bertambah banyak sarana prasarana, tenaga kesehatan, penemuan-penemuan obat-obatan atau sistem pengobatan tetapi ini tidak sampai menyentuh langsung pada masyarakat dan berbanding terbalik terhadap kejadian-kejadian penyakit? Pengaturan makanan pada semua lapisan tidak terjadi, ini dibuktikan dengan begitu menjamurnya penjualan makanan yang tidak alami, tidak beragam, tidak bergizi, tidak aman, tidak sehat yang dapat ditemukan pada penjualan di pasar, di supermarket, di kaki lima, di gerobak-gerobak, di kantin-kantin sekolah, di restoran atau rumah makan lainnya? Bahkan tidak sedikit yang ditemukan makanan yang kehalalannya diragukan atau tercampur dengan bahan-bahan yang haram.

Selain gizi untuk kesehatan, tidak kalah penting juga tentang olahraga yang harus diberikan di institusi pendidikan yang saat ini sudah semakin berkurang yang seperti dulu setiap pagi harus ada senam pagi. Tetapi lebih pada pemberian materi-materi akademik yang berakibat para siswa kurang bergerak atau berolahraga. Ini terlihat masih tingginya proporsi aktivitas sedentari >6 jam/hari penduduk umur ≥10 tahun yakni ada 24,1% (Riskesdas Kemenkes RI, 2013).

Berdasarkan Riskesdas Kemenkes RI 2018, banyak wanita kurang energi kronis (ada 31,8% terdiri dari 14,5% tidak hamil dan 17,3% wanita hamil) yang dapat menjadi sumber kelahiran bayi sangat pendek dan bisa stunting. Meningkatnya prevalensi kanker dari 1,4% tahun 2013 menjadi 1,8% tahun 2018. Meningkatnya penyakit ginjal kronis pada umur ≥15 tahun dari 2,0% tahun 2013 menjadi 3,8% tahun 2018. Tingginya proporsi pernah/sedang cuci darah yakni 19,3% dengan diagnosis gagal ginjal kronis. Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus yang tahun 2013 masih di bawah 1,5%, tetapi tahun 2018 naik menjadi 2,0%. Tingginya prevalensi penyakit jantung yakni 1,5% pada semua umur. Tinggi prevalensi stroke pada penduduk umur ≥15 tahun yakni pada tahun 2013 dibawah 5 per mil, tahun 2018 meningkat menjadi 10,9 per mil.

Masih tingginya hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk umur ≥18 tahun yakni 25,8% pada tahun 2013, meningkat menjadi 34,1% pada tahun 2018. Meningkatnya prevalensi merokok penduduk umur ≥10 tahun yakni dari 28,8% tahun 2013 menjadi 29,3% pada tahun 2018 serta meningkatnya proporsi konsumsi minuman beralkohol penduduk umur ≥10 tahun dari 3,0% tahun 2013 menjadi 3,3% pada tahun 2018. Tingginya proporsi obesitas sentral pada penduduk umur ≥15 tahun yakni tahun 2018 31% sementara tahun 2013 hanya 26,6%. Meningkatnya prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga gangguan jiwa skizofrenia/psikosis yakni tahun 2013 hanya di bawah 4 per mil, tahun 2018 meningkat menjadi 7,0 per mil.

Meningkatnya prevalensi diare berdasarkan diagnosis nakes tahun 2013 sebesar 7,0% menjadi 8,0% pada tahun 2018. Tingginya prevalensi TB paru berdasarkan diagnosis dokter yakni 0,4% pada tahun 2018 dan sebagai peringkat kedua tertinggi di dunia. Meningkatnya proporsi panjang badan lahir <48 cm pada anak umur 0-59 bulan yakni dari 20,2% tahun 2013 menjadi 22,7% tahun 2018. Pentingnya ASI dalam mencegah pneumonia yang cederung naik yakni berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tahun 2013 terdapat 1,6% dan tahun 2018 meningkat menjadi 2,0%. Rendahnya proporsi konsumsi makanan beragam pada anak 6-23 bulan yakni hanya 46,6%.

Mari sama-sama dibenahilah keadaan ini wahai para penguasa, pengusaha, masyarakat dan semuanya antara lain bagaimana terjadi pemahaman yang baik tentang gizi dan kesehatan pada masyarakat sampai pada tingkat usia dini? Pemerintah membuat regulasi tentang makanan dan pengusaha membuatnya dengan penuh kejujuran? Pemerintah menjamin ketersediaan pangan organik, pengusaha mendukungnya dan memperbanyak produknya termasuk ketersediaan di rumah tangga, pasaran, pada kegiatan pemerintahan/swasta, hotel-hotel (ada hotel dekat pantai tapi menu ikan tidak ada, apalagi yang jauh dari pantai sementara Indonesia penghasil ikan terbanyak di dunia), dll. Bagaimana pemerintah menjamin informasi gizi dan kesehatan dapat dirasakan oleh semua pihak secara terstruktur, sistematis, masif, berkesinambungan baik pada laki-laki maupun perempuan? Malah banyak wanita yang tidak bisa mengolah makanan sementara ke depan mereka adalah tumpuan hidup dalam rumah tangga. Terus, bagaimana mereka akan mengurus rumah tangganya nanti? Bisa saja akan ada hal praktis yang mereka lakukan adalah hanya tau makan saja, tidak tahu bagaimana kebutuhan makanan untuk dirinya, untuk keluarganya termasuk untuk masa depan generasi. Bukankah dikatakan bahwa apabila wanita baik maka baiklah bangsa dan negara itu?

Begitu bagusnya semua tenaga kesehatan dan didukung lintas sektor lainnya bila berpartisipasi dalam proses pembelajaran gizi dan kesehatan pada masyarakat, misalnya semua tenaga kesehatan terjadwalkan dalam pemberian penyuluhan yang terstruktur, sistematis, masif dan berkesinambungan di semua sekolah-sekolah. Karena SLTA/SMK sudah dibawah struktur organisasi pemerintahan Provinsi, maka kapasitas kabupaten/kota dapat melingkupi PAUD, SD, SLTP.

Untuk membuat materinya, sangat mudah dilaksanakan oleh institusi kesehatan dan institusi pendidikan dari tingkat pusat sampai daerah. Tetapi lebih bijak diserahkan ke daerah masing-masing yang mempunyai spesifikasi atau kearifan lokalnya. Semua teori telah menyatakan bahwa salah satu jalan terbaik untuk memperbaiki perilaku hidup manusia adalah dengan pembelajaran tentang perilaku itu sendiri yang meliputi pemberian pengetahuan melalui proses pembelajaran, dengan pembelajaran ini maka setiap orang akan bersikap terhadap pengetahuan yang diperolehnya, kemudian karena sudah mengetahui dan sudah bersikap maka akan terjadi tindakan mempraktikkan apa yang diketahui dan yang telah disikapi tersebut.

Pembelajaran gizi dan kesehatan ini telah dilaksanakan di Gorontalo yang dipayungi oleh Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2015 (Lahirnya Perda ini melalui perjuangan lebih dari 14 tahun). Ini diterapkan di SD, SMP dan SLTA/SMK, dan bahkan di perguruan tinggi telah diajarkan dalam mata kuliah. Pembelajaran ini harapannya adalah: a. Membangun kesadaran dan meningkatkan perilaku masyarakat secara berjenjang tentang gizi dan kesehatan meliputi pengetahuan, sikap dan praktik konsumsi makanan dan kesehatan; b. Sebagai upaya memutus mata rantai permasalahan gizi dan kesehatan yang disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi setiap hari; c. Sebagai upaya pengembangan budaya daerah dalam melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal; d. Sebagai upaya transformasi hasil-hasil riset kepada seluruh jenjang pendidikan dasar, menengah dan lapisan masyarakat tentang makanan tradisional oleh perguruan tinggi atau lembaga riset lainnya guna melaksanakan ketahanan pangan berbasis pangan lokal; e. Membelajarkan juga jiwa enterpreneur pada peserta didik.

Ada juga tindakan yang telah tersusun baik di Indonesia dalam mengajar gizi dan kesehatan yakni melalui Gerakan Pramuka Satuan Karya Bakti Husada (SBH) dengan enam krida yang dimiliki dan dispesifikkan dalam 32 jenis kecakapan khusus. Ini telah ada sejak tahun 1985, namun sangat disayangkan mengapa ini sulit berkembang. Sekarang telah ditunjang dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 38 Tahun 2019 tentang Pembinaan SBH. Kesiapan diri untuk suka dan rela dalam membagikan ilmu-ilmu kesehatan ke masyarakat sebagai pengabdian diri untuk amal baik masih sangat terbatas dilakukan oleh tenaga kesehatan? Ada juga yang siap mengabdikan diri, tetapi secara manajemen tidak diatur sehingga enggan melakukannya? Selanjutnya jika ini menjadi indikator pengabdian masyarakat dalam penilaian akreditasi puskesmas, rumah sakit, atau institusi kesehatan lainnya baik horizontal maupun yang vertikal, maka pembelajaran gizi dan kesehatan secara terstruktur, sistematis, masif dan berkesinambungan dapat menjadi penyelamat pengetahuan bangsa dan negara.

Mari bersama, Indonesia darurat mengajar gizi dan kesehatan pada seluruh lapisan masyarakat guna meningkatkan dan memperbaiki status gizi dan kesehatan dalam mencegah dan menurunkan resiko penyakit menular dan tidak menular. Artinya, marilah diperbanyak tindakan untuk menjawab pertanyaan bagaimana orang sehat itu tetap sehat, tanpa mengabaikan jawaban untuk tindakan atas pertanyaan bagaimana orang sakit itu menjadi sehat. Penyakit ini telah membebani semua lini kehidupan Indonesia baik beban di tingkat rumah tangga, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai menjadi beban negara yang tak kunjung terbenahi, yang semuanya terimplikasi pada kualitas SDM Indonesia yang diharapkan nanti memperoleh bonus demografi. Namun jika tidak segera diantisipasi maka bonus demografi yang diharapkan untuk mendatangkan keuntungan, keunggulan dan kebahagiaan malah akan menjadi malapetaka yang bermakna.

Sesungguhnya sehat itu murah, yang mahal adalah sakit (Napu A. 2017). Olehnya, apakah Indonesia sedang disengaja berada dalam siklus sakit yang terstruktur, sistematis, masif dan berkesinambungan sehingga dengan mudah masuk juga dalam lembah siklus kemiskinan (perlu penelitian)? Ayo, bersama kita mengajar gizi dan kesehatan untuk menyehatkan bangsa dan negara agar dicerdaskan dan tidak lagi terbodohkan seperti zaman penjajahan sehingga banyak terlahir investasi yang sehat dan unggul. Bersama kita berkarya nyata sebagai Ibadah, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 + three =

scroll to top
X