HFMD, Perlukah menjadi perhatian?

Picture1.png

Oleh Lastri Qodriany, SKM

Apa itu HFMD?

HFMD atau Hand, Foot and Mouth Disease, yang disebut juga Penyakit tangan, kaki dan mulut (PTKM) merupakan penyakit yang umumnya ditemukan pada anak-anak, dapat sembuh sendiri, ditandai oleh vesikel yang berulserasi di mulut, tangan, dan kaki. Penyebab HFMD adalah enterovirus (coxsackievirus A, coxsackievirus B, enterovirus) dan enterovirus 71 (EV71) merupakan patogen yang paling sering menyebabkan komplikasi berat pada penderita HFMD.

Penyakit ini bukan penyakit berat dan biasanya tidak berbahaya tetapi sangat mudah menular dengan  masa inkubasi 3-7 hari. Penyakit ini dapat sembuh dalam 7-10 hari dengan pengobatan hanya bersifat suportif. HFMD menular secara kontak langsung dengan cairan tubuh penderita (cairan hidung, mulut, vesikel) melalui batuk, berbicara dan bersin (droplet). Secara oral fecal melalui tangan, mainan, dan alat-alat lain yang tercemar oleh feses penderita. Faktor yang dapat mempengaruhi penularan adalah hygiene, kualitas air dan kerumunan orang.

Penyakit ini ditandai dengan munculnya demam, rash (ruam pada kulit) dan blister (benjolan kecil) di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut. Penderita cenderung tidak nafsu makan; malaise (kondisi lemah, letih, dan lesu) dan nyeri pada tenggorokan. Biasanya setelah satu atau dua hari setelah demam, akan timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari blister sampai kemudian dapat menjadi mucus. Lesi dapat terjadi pada lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya. Ruam dapat juga timbul di tungkai, lengan, bokong dan kulit sekitar kemaluan (6).

Definisi Operasional Penyakit HFMD adalah Demam 38-39°C dalam 3-7 hari, nyeri telan, nafsu makan turun, muncul vesikel di rongga mulut dan atau ruam di telapak tangan, kaki dan bokong. Biasanya terjadi pada anak dibawah 10 tahun (7).

Epidemiologi HFMD

GLOBAL

HFMD pertama kali dilaporkan pada tahun 1957 di New Zealand, dan mulai tersebar di seluruh Dunia. Beberapa dekade terakhir, sering terjadi pada wilayah Asia Pasifik termasuk Cina, Jepang, Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, Mongolia, Korea, Singapure, Taiwan dan Vietnam (Zhuang, Z.-C., & et al,2015).

Beberapa negara pernah melaporkan adanya kasus HFMD berat dan berakibat fatal diantaranya wabah di Cina tahun 2009. Saat itu dilaporkan terjadi sekitar 1.155.525 kasus, dengan 13.810 kasus berat dan 353 kasus menyebabkan kematian. Kasus yang sama juga dilaporkan tahun 1998 wabah di Taiwan yang menginfeksi lebih dari 120.000 orang dan menyebabkan 78 kematian (Andriyani, C., Heriwati, D. I., & Sawitri, 2010).

Tahun 2018,  Menurut catatan World Health Organization (WHO), HFMD ini masih menjadi masalah kesehatan yang penting. Kasus yang dilaporkan pada tahun tersebut relatif tinggi dibandingkan lima tahun sebelumnya dimana tercatat total kumulatif 25.047 kasus sejak awal bulan sampai juli  2018 (WHO, 2018).

INDONESIA

Di Indonesia, data Epidemiologi untuk HFMD belum memadai, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya perhatian karena sifat penyakit yang self-limiting. Dari 48 kasus HFMD yang diterima laboratorium Virologi Pusat Biomedis dan Tekhnologi Dasar Kesehatan – Badan Litbang Jakarta, ditemukan 26 kasus (54%) disebabkan oleh enterovirus dan 3 diantaranya EV-71 (6,25%) (Purwanthi, I. A,2016).

Penyakit ini telah ada sejak 2000 terjadi di Batam sebanyak 12 kasus dan 7 kasus di Jakarta. Tahun 2001 ditemukan 3 kasus di DIY dan 48 kasus di Kabupaten Boyolali, tahun 2009 terjadi 9 kasus di Jakarta (Subdit Surveilans, 2020).

MORTALITAS

Gejala HFMD pada umumnya ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, virus patogen dari penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang lebih parah seperti meningitis, ensefalitis dan kelumpuhan seperti pada kasus poliomielitis (WHO, 2018).

GORONTALO

Pada Sistim Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) terdapat 24 Penyakit potensi KLB/Wabah yang wajib dilaporkan tiap minggunya, termasuk Suspek HFMD.

Dari pengamatan pada laporan SKDR Provinsi Gorontalo selang Januari sd Juli 2022 (minggu 1 sd 30) terdapat laporan suspek HFMD dengan jumlah 38 kasus (27 kasus laporan puskesmas dan 11 kasus laporan Rumah Sakit). Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya tidak terdapat laporan Suspek HFMD (0 kasus), di tahun 2020 berjumlah 20 kasus dan di tahun 2019 berjumlah 15 kasus.

Grafik 1. Kasus Suspek HFMD yang dilaporkan tahun 2019 sd 30 Juli 2022

Sumber : SKDR, 2019-2022

Grafik 1 menunjukkan bahwa kasus Suspek HFMD paling banyak dilaporkan di tahun 2022 hingga bulan juli sebanyak 38 kasus. di tahun 2021 berjumlah 0 kasus, tahun 2020 berjumlah 20 kasus dan tahun 2019 berjumlah 15 kasus.

Jika dilihat menurut sumber laporan tahun 2019 sd 2021 rumah sakit,  0 kasus bukan berarti tidak ditemukan kasus suspek HFMD tetapi pelaporan yang bersumber dari Rumah Sakit di tahun tersebut belum masuk pada pelaporan SKDR.

Setiap 1 kasus suspek HFMD yang dilaporkan akan menjadi alert yang merupakan warning kewaspadaan dan perlu dilakukan respon atau diverifikasi. Dan di provinsi Gorontalo hasil verifikasi alert suspek HFMD oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana alert yang masuk dengan suspek HFMD merupakan kasus HFMD secara klinis yang di diagnosa oleh dokter Puskesmas maupun dokter Rumah Sakit.

Grafik 2. Suspek HFMD berdasarkan Unit Pelapor di Provinsi Gorontalo selang Minggu 1 – 30 Tahun 2022 (Januari-Juli)

Sumber : Data SKDR, 2022

Laporan suspek HFMD di Provinsi Gorontalo yang masuk pada SKDR lebih banyak dilaporkan dari unit pelapor Puskesmas yakni 72% dari total kasus dibandingkan unit pelapor Rumah Sakit.

Grafik 3. Tren Suspek HFMD berdasarkan minggu epidemiologi Tahun 2022

Sumber : Data SKDR, 2022

Grafik 3 menunjukkan bahwa suspek HFMD pertama kali dilaporkan di minggu 20 (15-21 Mei 2022) sebanyak 4 kasus, dan mulai dilaporkan tiap minggunya dan meningkat di minggu 29 (17-23 Juli 2022) berjumlah 13 kasus. Kasus pertama dilaporkan berasal dari satu wilayah yakni kelurahan Hepuhulawa kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Sementara pada minggu 29 yang terjadi peningkatan kasus, dari 13 kasus 9 kasus berasal dari Kabupaten Boalemo dimana 8 kasus berasal dari satu wilayah yakni Kecamatan Tilamuta dimana kasus yang berobat di Puskesmas 1 kasus dan dilakukan PE ditemukan 7 kasus dengan gejala yang sama.

Grafik 4. Distribusi Kasus Suspek HFMD berdasarkan Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo Minggu 1 sd 30 Tahun 2022 (Januari-Juli)

Sumber : Data SKDR, 2022

Grafik 4 diatas menunjukkan bahwa Kabupaten Boalemo paling banyak yang melaporkan kasus suspek HFMD berjumlah 15 kasus, dan yang tidak ada kasus yakni Kabupaten Gorontalo Utara.

Rekomendasi

  1. Melakukan pengamatan secara rutin dan terus menerus bagi Kabupaten/Kota yang telah ditemukan kasus HFMD maupun suspek,
  2. Lakukan Penyelidikan Epidemiologi apabila menemukan kasus dengan suspek HFMD;
  3. Melakukan KIE (Komunikasi, Edukasi dan Informasi) serta advokasi dan sosialisasi kepada instansi terkait PHBS;
  4. Surveilans ketat terhadap penderita dan kontaknya;
  5. Melaporkan segera 1×24 secara berjenjang apabila terjadi KLB dengan mengirimkan W1, HFMD dinyatakan KLB apabila ditemukan Klaster ≥ 2 kasus dalam satu institusi yang memiliki hubungan epidemiologi;
  6. Melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab infeksi.

Referensi :

  1. Subdit Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Dirjen P2P Kementerian kesehatan RI. Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulanggan KLB Penyakit Menular dan Keracunan  Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit) Edisi Revisi III. 2020;
  2. Zhuang, Z.-C., & et al. Epidemiological Research on Hand, Foot, and Mouth Disease in Mainland China. Viruses, 2015. 7, 6400-6411. Doi:10.3390/v7122947;
  3. Purwanthi, I. A. Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (Hand, Foot, and Mouth Disease). 2016. CDK, 43 (11). Available from : http://www/kalbemed.com/Portals/6/07/246CME-Penyakit%20Tangan-Kaki%20dan%20Mulut.  pdf;
  4. Andriyani, C., Heriwati, D. I., & Sawitri. Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut (Hand-Foot-and-Mouth Disease). Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. 2010. 22 (2). Available from : http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-bik33172b19f26full.pdf;
  5. WHO. A Guide to clinical management and public health response for hand, foot and mouth disease (HFMD). 2018. Available from: http://www.who.int/westernpacific/emergencies/surveilance/archives/hand-foot-and-mouth-disease;
  6. Modul Pelatihan No. 84. Hand, Foot, Mouth Disease. Universitas Airlangga. Available from: https://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp content/uploads/2017/03/TI11_HFMD-Q.pdf;
  7. Subdit Surveilans, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Dirjen P2P Kementerian kesehatan RI. Algoritma SKDR. 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 3 =

scroll to top