Hari Gizi Nasional Ke-60 Fokus Generasi Milenial

IMG-20200125-WA0006.jpg

Hari Gizi Nasional ke-60, 25 Januari 2020

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Pembangunan sumber daya manusia Indonesia salah satunya didukung oleh pembangunan kesehatan masyarakat yang dapat memberikan manfaat dalam jangka yang panjang dan berkelanjutan. Terpenuhinya gizi masyarakat pada periode 1000 HPK dan saat remaja berperan penting dalam pembangunan kesehatan.

Saat ini, Indonesia memerlukan remaja yang produktif, kreatif, dan kritis demi kemajuan bangsa sehingga remaja yang sehat, kreatif dan memiliki pemikiran yang kritis dapat memaksimalkan produktivitas. Remaja yang sehat itu juga tidak hanya dilihat dari fisik saja, tetapi juga dari aspek kognitif, psikologis, dan sosial. Perkembangan saat remaja dapat menentukan kualitas seseorang dalam menjadi individu dewasa.

Indonesia saat ini sedang dihadapi dengan masalah “triple burden” yaitu stunting dan wasing masih tinggi, masalah gizi obesitas dan kekurangan zat gizi mikro juga menjadi beberapa dari tantangan terbesar yang dihadapi di Indonesia.

Untuk itu dalam peringatan Hari Gizi Nasional ke-60 kali ini dapat menjadi salah satu kegiatan yang dapat mengutamakan upaya bersama berbagai pemangku kepentingan terhadap komitmen, kampanye, edukasi, akses pangan bergizi dan monitorign program sehingga akan tercipta SDM yang sehat, cerdas, dan tangguh.

Adapun tema yang diusung dalam kegiatan Hari Gizi Nasional ke-60 kali ini adalah “Gizi Optimal untuk Generasi Milenial” dengan slogan “Ayo Jadi Milenial Sadar Gizi”. Dengan pelaksanaan sejak awal Januari hingga pertengahan tahun 2020 di seluruh Indonesia.

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-60 kali ini memiliki tujuan sebagai berikut :

  1. Meningkatkan pengetahuan generasi milenial untuk sadar gizi dan kesehatan;
  2. Melakukan penyebarluasan informasi dan promosi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi optimal dalam mewujudkan pembangunan SDM berkualitas;
  3. Meningkatan peran media masa dalam kampanye gizi terhadap remaja sebagai salah satu penanggulangan stunting;
  4. Meningkatkan komitmen antara pemangku kepentingan baik sektor kesehatan ataupun non-kesehatan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, swasta dalam kesehatan dan gizi.

Sumber : http://promkes.kemkes.go.id/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − 10 =

scroll to top