Gorontalo Termasuk Daerah Tertinggi Penemuan Kasus dan Pengobatan TBC

IMG-20220323-WA0015.jpg

Workshop Komunikasi Motivasi bagi Petugas Kesehatan di Fasyankes Layanan TB RO, Selasa (22/03/2022) di Grand Q Hotel Kota Gorontalo.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Saat ini, Indonesia masih menjadi negara dengan beban penyakit tuberkulosis (TBC) terbesar ketiga di dunia dengan estimasi 824.000 jumlah kasus dengan kematian sebanyak 13.110 dan hanya 47% kasus yang terlaporkan (Global TB Report 2021, WHO). Untuk itu, perlu dilakukan upaya penemuan kasus secara aktif agar segera diobati.

Selain itu, masalah lain yang dihadapi adalah Resistan Obat (RO). Berdasarkan Global TB Report WHO tahun 2019 diperkirakan terdapat 24.000 kasus TBC Resistan Obat (TBC RO) setiap tahunnya di Indonesia. Di Provinsi Gorontalo diketahui Indikator Capaian penemuan kasus TB Resisten Obat tahun 2020 sebanyak 34 kasus dengan estimasi 126 kasus atau sebesar 26,98%. Tahun 2021 penemuan kasus meningkat sebanyak 58 kasus dengan estimasi 126 kasus atau sebesar 46,03%.

Sebanyak 91% kasus TBC di Indonesia adalah TBC paru yang berpotensi menularkan kepada orang yang sehat di sekitarnya. Saat ini, penemuan kasus dan pengobatan TBC yang tinggi telah dilakukan di beberapa daerah di antaranya Banten, Gorontalo, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat (sehatnegeriku.kemkes.go.id).

“Walaupun provinsi Gorontalo menurut Kemenkes termasuk daerah dengan penemuan kasus TBC tinggi, tetapi diperlukan upaya yang tepat untuk meningkatkan angka memulai pengobatan serta mengurangi angka lost to follow up” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Yana Yanti Suleman, SH., saat diwawancarai Tim Infokom.

Data Kemenkes juga menunjukkan cakupan pengobatan TBC secara nasional mengalami penurunan dari 67% di tahun 2019 menjadi 42% di tahun 2020. Beberapa faktor penyebabnya efek samping obat, kurangnya dukungan psikososial, permasalahan ekonomi, pengobatan yang membutuhkan waktu yang lama dan masih kurangnya Komunikasi Motivasi kepada pasien oleh petugas kesehatan. Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, peran tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan sangat penting, salah satunya adalah Komunikasi Motivasi.

Ditambah pandemi COVID-19 melanda 2 tahun terakhir, menyebabkan upaya penanggulangan TBC berbasis masyarakat mengalami hambatan yang signifikan.

“Selain melatih petugas dalam komunikasi motivasi kepada pasien untuk mau berobat serta selama pasien masih dalam pengobatan hingga sembuh, perlu juga memfaatkan berbagai media sosial dan media elektronik di era digitalisasi saat ini dengan sebagai salah satu upaya promosi dan pemberian informasi tentang Tuberkulosis” jelas dr. Yana.

Kadinkes dr. Yana juga menambahkan penemuan kasus sedini mungkin harus terus dilakukan diantaranya dengan melakukan skrining, pengobatan secara tuntas sampai sembuh merupakan salah satu upaya yang terpenting dalam memutuskan penularan TBC di masyarakat.

“Tahun ini Kemenkes akan melakukan skrining secara besar-besaran dan kami masih menunggu waktu pelaksanaanya. Dengan penemuan kasus ini nantinya diharapkan mempercepat eliminasi TBC di tahun 2030” pungkasnya.

Perlu diketahui, gejala-gejala awal muncul TBC pada seseorang dapat berupa batuk karena menyerang saluran pernapasan dan juga organ pernapasan, batuk berdahak terus-menerus selama 2 sampai 3 minggu atau lebih, kemudian sesak napas, nyeri pada dada, badan lemas dan rasa kurang enak badan, nafsu makan menurun, berat badan menurun, dan biasanya yang muncul adalah berkeringat pada waktu malam hari meskipun tidak melakukan kegiatan apapun.

Rilis : MD
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven − 1 =

scroll to top