Gizi, Olahraga dan KONI

WhatsApp-Image-2020-12-08-at-07.10.36.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT., M. Kes., saat sedang mengajar gizi atlet Berprestasi pada Ahli Gizi (Kemenpora RI dan KONI)

Oleh: Dr. Arifasno Napu, SSiT. MKes*

Prestasi atlet merupakan akumulasi dari kerja sama berbagai profesi dalam manajemen organisasi olahraga yang bukan hanya digantungkan penuh pada pelatih diantaranya manajemen atlet saat rekrutment, latihan, bertanding, pasca pertandingan, atau saat liburan. Apabila semua sistem pengaturan belum memperhatikan kebutuhan gizi atlet berarti apakah organisasi sedang memperpendek  umur prestasi bahkan umur hidup atlet?

Begitu bangganya kita Indonesia, yang semula kurang diperhitungkan pada olahraga ASIAN Games, saat ini dapat meraih peringkat empat dari 46 negara, dengan perolehan 98 medali (emas: 31, perak: 24, perunggu: 43) termasuk yang disumbangkan oleh atlet takraw dari Gorontalo. Sebelumnya Indonesia rangking ke-18 dengan perolehan 20 medali (emas:4, perak:5 dan perunggu: 11). Apakah naiknya prestasi Indonesia karena sebagai tuan rumah yang berkesempatan untuk mengikuti banyak nomor cabang olahraga? Semoga untuk ASIAN Games berikutnya, Indonesia dapat meraih medali yang lebih banyak atau minimal dapat mempertahankan jumlah medali termasuk mempertahankan peringkatnya.

            Keberhasilan atlet, sering dipandang sebagai keberhasilan dari pelatih yang hebat dan berpengalaman. Sesungguhnya, keberhasilan atlet merupakan sebuah akumulasi dalam sistem. Sistem tersebut meliputi sistem dalam organisasi atlet, kemudian bagaimana pelatihnya, tim kesehatannya termasuk psikolog, atlet itu sendiri, atau bagaimana sistem yang dilaksanakan oleh tenaga keolahragaan?

            Jika seorang atlet berhasil maka tidak lepas dari pujian untuk pelatih dan atlet itu sendiri. Sementara jika atlet tidak berhasil, maka berbagai alasan juga yang disampaikan tentang kegagalan dan yang paling banyak adalah tentang kapasitas atlet itu sendiri. Bagaimana manajemennya, bagaimana peran pelatih, sampai-sampai dikaitkan dengan historis bangsa yang terbatas jiwa juangnya, dan lain sebagainya.

            Bila kita menyaksikan olah raga pertandingan seperti sepakbola, terlihat untuk babak pertama menjadi daya saing yang berarti untuk Indonesia, namun begitu masuk babak kedua sekalipun sudah unggul namun paling sering menjadi kebobolan untuk bangsa Indonesia. Apakah ini bukan merupakan bahan analisis yang bermakna untuk dikaji secara terintegrasi dan juga lintas profesi? Selain itu ada juga olahraga pertandingan dan perlombaan berdasarkan kelas berat badan. Sebagai contoh adalah karate atau angkat berat, dayung, biasanya berat badan ini tidak menjadi perhatian dari awal dan kadang kala ada atlet yang harus diturunkan berat badannya 5-7 Kg dalam waktu 1-2 pekan guna memenuhi persyaratan berat badan pada kelas yang di tuju. Sementara  dalam aturan kesehatan penurunan berat badan yang aman dan sehat adalah 0,5-1 Kg dalam waktu perpekan. Akhirnya untuk mencapai penurunan berat badan yang diinginkan dalam waktu dekat ditempuh dengan cara: atlet disuruh lari tengah hari dalam keadaan terik matahari dengan memakai jaket kedap air, atlet disuruh mengurangi minum, atlet dikurung di mobil pada saat terik, atlet disuruh kurangi makan bahkan tidak disuruh makan malah diberikan air minum saja. Perlakuan ini diperintahkan oleh sang pelatih dan biasanya dilakukan tinggal beberapa hari pertandingan.

            Dalam latihan ada pengaturan makanan sebelum pelatihan, saat pelatihan, saat menghadapi pertandingan, dan bahkan saat pertandingan serta sesudah pertandingan. Apakah pengaturan makanan dan minuman ini menjadi prioritas? Sampai-sampai hasil pengamatan penulis, malah seorang pelatih memberikan pengaturan makanan pada atletnya tetapi tidak sesuai dengan aturan, yang memicu para atlet untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang dianggap energik, harganya mahal dan belum tentu berhubungan positif pada prestasi? Mereka menganggap bahwa setelah mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu yang dianggap bervitamin atau bermineral tinggi maka otot tubuhnya akan bagus, dan dengan berbagai rayuwan penyampaian yang sangat sering tidak berdasar teori yang ilmiah atlet juga akan mematuhinya. Apalagi ditambah dengan kedisiplinan atlet yang tidak baik karena mentang-mentang menganggap dia yang berprestasi, sementara prestasi yang dimilikinya baru prestasi daerah atau nasional, bukan regional bahkan bukan internasional, sehingga terkesan apapun yang dilakukannya bukan menjadi penghalang keikutsertaannya pada pertandingan atau perlombaan.

            Mengapa makanan dan minuman atlet bukan menjadi prioritas? Inilah dasar permasalahan yang sedang dihadapi oleh atlet sekarang, sehingga tidak jarang umur prestasi atlet Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan umur atlet luar negeri? Apakah manajemen olahraga memahami bahwa pengaturan makanan atlet sangat menunjang prestasi dan kesehatan atlet? Bagaimana pemahaman pelatih tetang makanan dan minuman pada saat latihan, selesai latihan dengan durasi tertentu, saat persiapan pertandingan, saat pertandingan, sesudah pertandingan, saat atlet sedang istirahat, dan lainnya sebagainya?

            Sesuatu yang menjadi pendukung atlet mengkonsumsi makanan dan minuman yang belum tentu baik yakni rendahnya pemahaman dan juga belum pernah memperoleh pengetahuan tentang makanan dan minuman atlet, sehingga apa yang disampaikan oleh pelatih itulah yang benar dan menjadi pedomannya. Dan tidak sedikit pula atlet maupun pelatih termasuk manajemen cabang olahraga terpengaruh oleh iklan-iklan tentang makanan dan minuman yang dianggap dapat meningkatkan prestasi atlet.

            Selanjutnya, untuk mengkonsumsi makanan dan minuman sesungguhnya sangat penting memperhatikan kebiasaan sebelumnya, tidak serta merta disodorkan makanan dan minuman yang tidak dikenalnya. Ini juga sering menjadi potensi menurunnya power atlet pada saat pertandingan, dan bahkan ada atlet yang senangnnya makan ikan malah selalu disediakan daging, tempe, tahu, telor dengan cita rasa yang monoton. Akibatnya, konsumsi atlet berkurang dan bahkan ada yang hanya makan seadanya sehingga pasti sangat mempengaruhi prestasi yang diharapkan. Ada juga atlet selain tidak memperhatikan makan dan minuman, malah tiba di satu daerah mereka menganggap jika mengkonsumsi makanan yang dijual di toko-toko atau supermarket merupakan makanan dan minuman yang sangat bagus dan menyehatkan.

            Sangat banyak permasalahan yang selalu dihadapi oleh para atlet, tetapi karena alasan berbagai keterbatasan sehingga atlet yang unggul hanya merupakan hasil seleksi alam saja tetapi belum melalui prosedur yang terstruktur, yang berdampak pada keberlanjutan prestasinya. Tidak jarang kita mendengar, jangankan biaya makan dan minum atlet, untuk biaya pemberangkatan atlet saja harus ditanggung dengan upaya yang sangat sulit sehingga tidak sedikit atlet menjadi menderita? Berbeda dengan negara-negara yang telah menghargai hak dan kewajiban atlet dalam cabang olahraga sehingga negara telah mengupayakan olah raga dapat berkelanjutan dengan proses profesional yakni dilaksanakan secara industri komersialisasi. Hasil dari industri ini, menjadi bagian penting untuk pembinaan atlet, pelaksanaan manajemen, dan pelaksanaan teknis lainnya. Semoga di Indonesia, ini dapat diciptakan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) bersama unsur lainya yang terjabarkan dalam pengurus besar (PB) atau pengurus daerah/cabang (Pengda/Pengcab) cabang olahraga masing-masing? Sangatlah dibutuhkan dengan program KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI yang bekerja sama dengan profesi yakni ahli gizi olahraga prestasi yang tersertifikasi guna menunjang prestasi atlet.

            Di sinilah letak manajemen apakah mampu meramu kemampuan fisik dalam prestasi secara ilmiah, akibatnya kehidupan atlet menjadi lebih baik. Malah sebagai penghargaan, hari ini telah ditetapkan untuk atlet yang berprestasi pada kejuaraan tertentu langsung direkrut menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) secara nasional, juga diberikan berbagai bonus. Tetapi, kuranglah berarti jika selama latihan, persiapan perlombaan/pertandingan dan sesudahnya tidak diperhatikan kebutuhan atlet terutama makanan dan minuman sebagai penopang utama kekuatan dan keterampilan mereka. Manajemen, pelatih bersama-sama atlet harus diberikan pengetahuan gizi agar apa yang mereka makan dan minum merupakan kebutuhan tubuh bahwa mereka berstatus sebagai atlet, bukan karena hanya mau memenuhi kebutuhan asal kenyang saja karena telah lapar. Semoga Tulisan ini bermanfaat, bersama berkarya sebagai ibadah, Amiin.

*Pemerhati masalah Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia di Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =

scroll to top