Dorong Puskesmas Tingkatkan Kerjasama dengan UTD-RS

WhatsApp-Image-2018-09-27-at-17.09.23.jpeg


Pelayanan Darah untuk Penurunan AKI

Dinkesprovgorontalo- Penyebab utama tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) pasca melahirkan, yaitu kekurangan darah akibat pendarahan. Sementara stok darah untuk ibu melahirkan sangatlah terbatas. Mengantisipasi itu, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melalui Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Kesehatan Tradisional melakukan pembinaan dan dorongan bagi Puskesmas sebagai rujukan tingkat pertama untuk meningkatkan kerjasama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) Rumah Sakit (RS) yang ada di provinsi Gorontalo. Tujuannya agar dapat bekerjasama kepada UTD-RS untuk dapat menyediakan stok darah baik dari pendonor sukarela ataupun pendonor dari keluarga.

Dari data dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo pada tahun 2017, angka kematian ibu pasca melahirkan mencapai 59 persen. Itu terjadi karena pendarahan. Sementara jumlah kematian ibu dalam tiga tahun terakhir menunjukkan grafik naik turun. Di tahun 2015 terjadi 52 kasus AKI, di tahun 2016 terjadi peningkatan yang mencapai 61 kasus kematian ibu serta di 2017 kasus kematian ibu menurun menjadi 44 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. H. Triyanto S. Bialangi, M.Kes mengungkapkan adanya kegiatan pertemuan pembinaan puskesmas yang bekerjasama dengan UTD-RS sebagai bentuk pelayanan darah untuk penurunan AKI di tahun 2018 dan ditahun-tahun mendatang. “Pendekatan keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) menjadi langkah strategis dalam mengimplementasikan pembangunan kesehatan. Kematian ibu karena pendarahan memang masih tinggi. Sehingga bagaimana langkah kita untuk dapat mencegah angka kematian ibu ini dapat di minimalisir,” ucap Triyanto.

Triyanto juga mendorong peran aktif dari setiap Puskesmas yang mengikuti kegiatan tersebut agar dapat menyiapkan calon pendonor bagi ibu jelang persalinan nanti. Sehingga ketika Ibu tersebut membutuhkan darah pasca persalinan ada pendonor baik sukarela maupun keluarga yang sudah disiapkan. “Mereka harus menjelaskan kepada pasien atau ibu yang sedang hamil tersebut agar menyiapkan calon pendonor. Sehingga saat persalinan nanti dan membutuhkan darah sudah ada pendonor dan tidak perlu mencari stok dari baik itu di PMI maupun di UTD. Sebab setiap hari stok darah yang dibutuhkan itu sangat tinggi, sehingga ditakutkan pada saat dibutukan stok darah kosong atau tidak mencukupi,” jelas Triyanto. (ndi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 14 =

scroll to top