Distribusi Obat Harus Terapkan Prinsip Kehati-hatian Agar Kualitasnya Tetap Terjaga

IMG-20230926-WA0072.jpg

Kadinkes Anang S. Otoluwa membuka Pembinaan Sarana distribusi kefarmasian dalam penerapan cara distribusi obat yang baik.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa membuka Pertemuan Pembinaan Sarana Distribusi
Kefarmasian dalam Penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik, Selasa (26/09/2023) di Citimall Hotel Kota Gorontalo.

Dalam arahannya, Kadinkes Anang menyampaikan terkait distribusi obat dimana ia berharap efektifitas dan efikasi obat tidak berkurang sehingga kualitas obat maupun vaksin masih terjaga sampai ke sasaran.

Anang juga mengungkapkan, multivitamin yang beredar ketika diuji kandungannya sudah berbeda dengan yang tertulis dalam kemasan karena bahan aktifnya sudah tereduksi dalam proses distribusinya.

“Saya contohkan seperti minum air dalam kemasan yang sudah terbuka dan tersimpan dalam mobil lebih dari sehari tidak dianjurkan untuk diminum karena paparan suhu panas dalam mobil maka botol plastikair mineral akan mengalami peningkatan suhu yang drastis dan terpapar oleh sinar ultraviolet. Hal inilah yang dapat menjadi bahaya menyimpan air minum dalam mobil. Pasalnya, senyawa kimia (PET/BPA) dari botol plastik akan lepas dari dindingnya dan bercampur dengan air dalam botol,” ungkap Anang.

Kadinkes Anang berharap obat ekspire bisa diminimalisir dengan pengelolaan obat yang baik dari sarana distribusi pemerintah maupun swasta. Selain itu, isu lain terkait limbah obat (limbah B3) yang juga menjadi bagian dari pengelolaan obat agar bisa ditatalaksanakan sesuai ketentuan.

“Semua pihak yang terlibat dalam proses distribusi obat dan atau bahan obat harus menerapkan prinsip
kehati-hatian (due diligence) dengan mematuhi prinsip CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik),
misalnya dalam prosedur yang terkait dengan kemampuan telusur dan identifikasi risiko,” ujarnya.

Tujuan CDOB lanjut Anang adalah untuk menjamin dan memastikan bahwa distribusi/penyaluran obat/bahan sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaannya.

“Selain itu untuk menggantisipasi pemalsuan obatdan/atau bahan obat serta beredarnya obat palsu yang dapat merugikan dan/atau bahkan beresiko timbulnya korban jiwa,” pungkasnya.

Rilis : Zhya/MD
Foto : ILB
Editor : Nancy Pembengo

Sosial Media Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo :
Channel Youtube
Facebook Page
Facebook
Twitter
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + nineteen =

scroll to top
Bahasa »