Dinkes Provinsi Investigasi Laporan Kasus Mirip Monkeypox

IMG-20190816-WA0018.jpg

Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan Provinsi, Kota Gorontalo dan Puskesmas Hulonthalangi saat melakukan investigasi penyakit yang mirip monkeypox, Jum'at (16/08/2019) di Rumah Sakit Bunda

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Sesuai laporan petugas bahwa di RS Bunda kota Gorontalo ada seorang pasien yang di curigai menyerupai kasus monkeypox, setelah mendengar informasi itu, Tim Gerak Cepat (TGC) Kejadian Luar Biasa (KLB)/Wabah Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo yang di pimpin Kepala Seksi Surveilans dan imunisasi Erni Mansur, SKM., M. Kes., beserta petugas surveilans puskesmas dan Dinkes kota Gorontalo bersama-sama melakukan verifikasi laporan tersebut.

Erni menjelaskan bahwa pasien MJ (11 th) dengan jenis kelamin laki-laki dan alamat tempat tinggal di kelurahan Donggala, Kecamatan Hulonthalangi dilaporkan mengalami sakit mulai tanggal 8 agustus 2019 dengan gejala yang timbul adalah bintik-bintik merah dan gatal di sekitar bagian dada, tapi tidak disertai panas.

Pasien yang kena gejala diduga mirip penyakit monkeypox

Setelah itu, lanjut Erni pasien tersebut di bawa ke Puskesmas Hulontalangi dan mulai timbul vesikel (bintik-bintik kecil berisi cairan bening), karena tidak bisa ditangani di puskesmas maka pasien dirujuk ke RS Bunda Kota gorontalo, Minggu (10/08/2019), setelah berada di RS penderita mulai panas.

“Kami sudah lakukan wawancara dan pasien tersebut tidak bepergian keluar negeri maupun keluar daerah selam 2 minggu sebelum sakit, serta tidak pernah kontak dengan hewan penular penyakit monkeypox seperti kera maupun tikus” ungkap Erni.

Menurut erni, sesuai dengan analisa TGC dan konsultasi medis di RS dan Tim Ahli Pusat di Kementerian Kesehatan bahwa pasien di pastikan bukan Suspect monkeypox karena faktor risikonya tidak mendukung, terangnya.

Lebih memperjelas hasil investigasi, tim rencananya akan turun melakukan Penyelidikan Epidemiologi di lingkungan sekitar tempat tinggal pasien, Sabtu (17/08/2019).

Untuk pencegahan, Erni berpesan kepada masyarakat agar menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Juga hindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik, menghindari kontak fisik dengan penderita atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur atau pakaian yang sudah dipakai penderita. 

Selain itu, masyarakat dihimbau untuk menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yg diburu dari hewan liar (bush meat), bagi yang melakukan perjalanan dan baru kembali dari wilayah terjangkit agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, dan menginformasikan riwayat perjalanannya.

Terakhir untuk petugas kesehatan, kata Erni agar menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap meliputi sarung tangan, masker, baju pelindung dan pelindung wajah saat menangani pasien atau binatang yang sakit,pungkasnya.

Rilis : Iswan
Editor : Nancy Pembengo & MD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × 1 =

scroll to top