Dinkes Provinsi Gelar Pertemuan Kaji Penyebab Kematian Ibu dan Bayi

WhatsApp-Image-2020-07-09-at-08.09.30.jpeg

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB dr. Rosina Kiu saat membuka Pertemuan Pembahasan Kasus Kematian Ibu Bayi Tingkat Provinsi Gorontalo, Senin (06/07/2020) bertempat di Hotel Grand Q Kota Gorontalo.

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Dalam lingkup kesehatan reproduksi, masalah kesehatan ibu menjadi isu yang penting karena kematian ibu masih tinggi dan membutuhkan perhatian dan upaya khusus untuk menurunkannya. Berdasarkan hasil SUPAS 2015 menyebutkan Angka Kematian Ibu (AKI) 305/100.000 kelahiran hidup (KH) sedangkan target 2030 secara global adalah 70/100.000 KH.

Dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) yang pada tahun 2015 diharapkan dapat turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup (target MDG’s 5a), banyak upaya yang telah dilakukan, baik dalam hal pemenuhan sarana dan pra sarana, pemenuhan SDM kuantitas maupun kualitas serta dalam hal pembiayaan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo khususnya Seksi Kesehatan Keluarga, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi (KKPPKBG) menyelenggarakan kegiatan Pelaksanaan Pertemuan Pembahasan Kasus Kematian Ibu Bayi Tingkat Provinsi Gorontalo, Senin (06/07/2020) bertempat di Hotel Grand Q Kota Gorontalo. Kegiatan ini dihadiri oleh tim AMP Kabupaten/Kota serta Provinsi sebagai Narasumber.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB dr. Rosina Kiu menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan penelusuran dan pengkajian penyebab kematian ibu dan bayi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan sebagai pembelajaran agar tidak terjadi kasus yang sama dimasa mendatang.

“Kegiatan ini akan membantu tenaga kesehatan untuk menentukan pengaruh keadaan dan kejadian yang mendahului kesakitan/kematian”, ujar dr Rosina.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi, H. Syafiin S. Napu, SKM, M. Kes.

“Pertemuan yang dihadiri Tim AMP Kabupaten/Kota dan Provinsi ini diharapkan dapat memperbaiki sistem pelayanan rujukan maternal dan neonatal serta menyediakan fasilitas yang lebih memadai dengan prinsip utama mengurangi kepanikan dan kegaduhan yang tidak perlu dengan cara menyiapkan rujukan terencana bagi yang membutuhkan (Pre-emptive strategy)”, jelas Syafiin.

Adapun tujuan dari Pembahasan Penyeliaan Fasilitatif, Pembahasan Kasus Kematian Ibu dan Bayi adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan KIA di seluruh wilayah Kabupaten/Kota dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu dan perinatal.

Dari kegiatan ini dapat ditentukan sebab-sebab dan faktor-faktor terkait dalam kesakitan/kematian ibu dan perinatal, dimana dan mengapa berbagai sistem program gagal dalam mencegah kematian jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan dan pembahasan kasus ibu dan bayi juga dapat berfungsi sebagai alat pemantauan dan sistem rujukan

Agar fungsi ini berjalan dengan baik, maka dibutuhkan pengisian rekam medis yang lengkap dengan benar disemua tingkat pelayanan kesehatan. Pelacakan dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara otopsi verbal yaitu wawancara kepada keluarga atau orang lain yang mengetahui riwayat penyakit atau gejala serta tindakan yang diperoleh sebelum penderita meninggal bu sehingga dapat diketahui perkiraan sebab kematian.

Rilis : Dewi Frida / Nur Ajran
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 4 =

scroll to top