Di Bone Bolango Gorontalo Makan “Kasubi” Meninggal Dunia?

WhatsApp-Image-2021-06-09-at-17.36.42-e1623234349716.jpeg

Dr. Arifasno Napu, SSiT, MKes, Pemerhati Gizi, Kesehatan dan Sosial. Mengajar Ilmu Gizi, Kesehatan, Olahraga, Budaya di Perguruan Tinggi, Anggota Pengurus ISNA (Indonesia Sport Nutritionist Association), Ketua Pergizi Pangan Indonesia Gorontalo, Wakil Ketua Kwarda Gorontalo, Pembina DPD PERSAGI Gtlo, ASN Staf Dinkes Prov Gtlo.

Alergi Yang Diketahui

Konstruksi tubuh setiap insan manusia bebeda-beda baik secara anatomi, fungsinya dan juga secara sistem metabolisme. Ada yang tidak bisa minum susu karena sejak kecil hanya minum ASI (air susu ibu) yang tentunya tidak ada tandingan manfaatnya untuk bayi, ibu, keluarga termasuk manfaat sosial ekonomi lainnya serta manfaat religi. Jika diminumkan susu bisa berdampak perut menjadi kembung dan sakit, bisa pusing, mual, muntah, bisa juga diare. Kejadian tersebut bisa saja karena intoleransi pada laktosa yakni tidak aktifnya enzim laktase dalam lambung. Bila tidak segera diatasi dapat terjadi dehidrasi berat, dapat menimbulkan kefatalan dalam kehidupan dan menyebabkan kematian?

Ada juga yang alergi dengan ikan air laut, karena jika mengkonsumsinya badannya akan gatal-gatal. Bisa saja pada awalnya ikan tidak mengandung histamin, namun mengandung histidin (asam amino). Setelah ikan mengalami kematian menuju kondisi post mortem, terjadilah dekarboksilasi histidin yang menghasilkan histamin. Inilah yang bisa menyebabkan rasa gatal pada tubuh, timbul ruam pada bagian yang gatal, ada juga bagian tubuh menjadi bengkak-bengkak, tetapi jarang menimbulkan kematian. Oleh karena itu ada di daerah-daerah tertentu yang membuat pantangan konsumsi ikan laut sehingga dialihkan pada konsumsi ikan air tawar atau ikan danau.

Demikian juga ada yang alergi dengan telur, dan jika mengkonsumsi telur akan terjadi gatal-gatal pada sekujur tubuhnya. Terjadi ruam kemerahan pada kulit gatal, hidung tersumbat atau pilek dan bersin yang umumnya terjadi pada bayi karena dipicu belum sempurnanya saluran pencernaan bayi. Biasanya terjadi karena awal dari pemberian makanan pendamping dengan komposisi protein dari telur yang tidak tepat. Oleh karena itu dalam memperkenalkan telur pada anak, sebaiknya pada umur di atas 6 bulan (diperkenalkan pula dengan sari buah) yang diawali dengan pemberian kuning telur yang dibuat makanan lumat secara bertahap jumlahnya. Alergi telur sejak anak-anak  jika tidak diadaptasikan kembali bisa saja akan menjadi bawaan hingga dewasa. Selanjutnya masih banyak lagi bahan makanan atau minuman lainnya yang bisa memberikan alergi atau reaksi sensitifitas baik ringat, berat bahkan mematikan.

Kematian Karena Konsumsi Kasubi

            Intoleransi dalam bentuk alergi terhadap minuman atau makanan yang dikonsumsi sangat jarang menimbulkan kefatalan jika segera teratasi seperti mengatasi mual dan muntah, diare, sakit kepala, pusing bahkan ada yang tidak sadarkan diri. Semuanya akan lekas pulih dan yang bersangkutan bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. Namun berbeda dengan kasubi (bahasa Gorontalo) atau dikenal dengan nama dalam bahasa Indonesia adalah ubi kayu atau ketela pohon atau singkong yang bila dikonsumsi oleh salah satu garis keturunan yang ada di Bone Bolango Gorontalo bisa memberikan kefatalan pada kesehatan bahkan bisa terjadi kematian. Ubi kayu ini ada yang berwarna kuning, putih, yang teksturnya keras atau lembut baik yang telah diolah langsung maupun yang tercampur dalam makanan atau adonan kue adalah sama sekali tidak bisa dikonsumsi oleh garis keturunan tersebut.

            Seorang ibu sebut saja bernama Dewinta (nama samaran) umur 61 tahun sedang duduk santai di halaman rumahnya didampingi oleh sanak keluarganya bersedia untuk diwawancarai oleh penulis tentang garis keturunannya yang bila mengkonsumsi ubi kayu setika bisa pusing, muntah-muntah, sampai tidak sadarkan diri yang bisa diakhiri dengan mulut berbusa. Bila tidak segera diatasi dengan sistem pengobatan tradisional yang mereka yakini maka dalam waktu lebih kurang dua belas jam bisa saja terjadi kematian, demikian penyampaian Dewinta.

            Sepengetahuan Dewinta yang tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu atau hasil olahannya adalah sejak dari generasi neneknya. Neneknya ini punya anak termasuk ibunya Dewinta. Semua saudara ibunya Dewinta juga tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu. Saudara kandung Dewinta yang berjumlah lima orang termasuk anak-anak dan para cucunya semuanya juga tidak bisa menglonsumsi ubi kayu. Para saudara sepupunya Dewinta termasuk anak-anak dan cucu-cucunya dari keturunan para saudara sepupunya itu juga demikian tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu. Berdasarkan penjelasan disampaikan bahwa keturunan yang tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu ini bukan hanya garis keturunan ibu tetapi garis keturunan ayah mereka juga, tetapi diawali dari garis keturunan neneknya Dewinta.

            Belum lama kejadian menimpa cucunya Dewinta yakni seorang anak laki-laki sebut saja namanya Sutomo (nama samaran) berumur sekitar 8 tahun. Suatu ketika, seseorang dengan senang hati memberikan satu biji kue (kue Sabongi) yang bahannya ada kelapa parut dicampur gula aren, ubi kayu parut, dan proses masaknya dilakukan dengan menggoreng. Pemberi kue ini tidak tahu bahwa Sutomo tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu sekalipun dalam bentuk olahan. Hanya beberapa saat kemudian Sutomo langsung pusing, muntah-muntah, tidak sadarkan diri dan akhirnya jatuh pinsang dengan mulut keluar busa (sama dengan ciri-ciri keracunan atau orang minum racun). Keluarga diliputi kepanikan termasuk orang tuanya. Dalam benak mereka Sutomo akan meninggal, karena teringat kejadian di sekitar tahun dua ribuan bahwa ada 3 (tiga) orang dari satu garis keturunan mereka, meninggal akibat mengkonsumsi ubi kayu. Ketiga orang tersebut berusia 9 tahun, 12 tahun dan yang satunya berusia remaja. Saat meninggal wajah mereka menjadi kehitaman. Penulis juga sempat melihat kuburan mereka yang tunjukkan oleh keluarganya.

            Tindakan yang dilakukan oleh keluarga Dewinta adalah dengan menciumkan bulu ayam yang telah dibakar kepada Sutomo. Memang proses kejadian kematian sebelumnya hanya berkisar 12 jam setelah mengkonsumsi ubi kayu. Tanpa pertolongan tenaga kesehatan bisa sampai dua hari dua malam tidak sadarkan diri, bahkan sekali-sekali mengeluarkan cairan berbusa dari mulutnya.

            Disampaikan oleh Dewinta, atas kekuasaan Allah SWT Tuhan yang Maha Esa akhirnya Sutomo siuman. Selama belum sadarkan diri, Sutomo diciumkan bulu ayam yang dibakar. Pada saat Sutomo sadarkan, wajahnya berubah warna menjadi kehitaman seperti wajah ketiga orang garis keturunannya yang telah meninggal. Dia diminumkan arang kayu bakar sebanyak satu sendok makan yang dicampur dengan air. Kemudian diberikan gula aren batu secukupnya yang dihisap-hisap dan dikunyah kemudian ditelan oleh Sutomo. Kalau sudah siuman, sadar, kemudian sudah minum cairan yang dicampur arang kayu bakar juga dimakankan gula aren pertanda anak ini akan sembuh, selamat dan lepas dari resiko kematian. Saat mewawancarai Dewinta, ternyata Sutomo sedang disamping penulis dan terlihat dalam keadaan sehat walafiat demikian pula sanak keluarga mereka dalam satu garis keturunan. Sang pemberi kue secara tidak sengaja pada Sutomo juga hadir dalam wawancara tersebut.

            Bisa dikatakan aneh bahwa ketika mengkonsumsi ubi kayu sangat beresiko terhadap nyawa mereka, sementara jika mengkonsumsi ubi hutan yang kandungan HCN (asam sianida) bisa lebih tinggi dan sangat beresiko keracunan, namun garis keturunan tersebut menyampaikan bukan menjadi masalah. Tetapi sekalipun hanya sedikit ubi kayu yang dikonsumsi  walau hanya sebagai campuran adonan apakah pada kue atau makanan lainnya tetap saja memberikan akibat dengan gejala dan kefatalan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

            Ketika ditelusuri mengapa garis keturunan yang telah dijelaskan sebelumnya tidak boleh mengkonsumsi ubi kayu? Ada sebagian warga menyampaikan bahwa itu punya keterkaitan dengan ucapan-ucapan yang disampaikan oleh leluhur mereka sehingga berdampak terus pada garis keturunannya. Demikian pula yang terinformasikan selama ini bahwa sangat jarang orang yang keracunan dengan ubi kayu. Sekalipun ubi kayu mengandung HCN, namun dengan proses pengolahan sebelum dimasak sudah sangat diminimalisir HCN tersebut diantara sudah dikupas, direndam dengan air, dicuci, direbus, dibuat kerupuk, dan diekstrak patinya. Tetapi garis keturunan ini tetap saja beresiko kematian bila mengkonsumsinya, demikian penyampaian Dewinta kepada penulis.

Beberapa Pertanyaan:

  1. Apakah garis keturunan yang tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu dalam bentuk langsung maupun dalam adonan kue atau makanan lainnya dapat dikatakan sebagai keadaan keracunan?
  2. Ada apa dengan garis keturunan ibu Dewinta sehingga bisa terjadi “keracunan” atau sensitifitas tubuh mereka pada ubi kayu hingga terjadi kematian? Bagaimana sistem metabolisme tubuh dalam mencerna ubi kayu sehingga bisa menimbulkan kefatalan bahkan sampai kematian? 
  3. Apakah garis keturunan ibu Dewinta sangat sensitif dengan HCN pada ubi kayu sementara ketika mereka mengkonsumsi ubi hutan (bahasa Gorontalo: bitule) yang bisa lebih tinggi kandungan HCN bukan berdampak negatif dan malah mereka sehat-sehat saja? Bagaimana penanda atau biomarker tubuh garis keturunan tersebut karena tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu? Apakah fokus masalah bukan karena HCN, tetapi apakah terkait dengan kandungan zat gizi yang ada dalam ubi kayu seperti karbohidrat, protein, lamak, vitamin dan mineral?
  4. Apakah dapat dikatakan bahwa dengan enam generasi yang tidak bisa mengkonsumsi ubi kayu adalah masalah yang sangat penting, karena dapat terjadi pada garis keturunan ke tujuh dan keturunan seterusnya?
  5. Berkembangbiaknya garis keturunan Dewinta dan bisa saja ada keturunannya yang tidak mengetahui bahwa ubi kayu itu adalah berbahaya untuk nyawa bila mereka konsumsi maka sudah saatnya apakah penting harus ada atau mungkin telah dibuat vaksin atau apalah namanya yang penting  anti ubi kayu untuk diberikan kepada mereka?
  6. Menariknya, cara pengobatan tradisional dengan menggunakan bulu ayam yang dibakar kemudian dihirupkan; arang kayu bakar yang dihaluskan dan diambil 1 sendok makan yang dicampur dengan air kemudian diminumkan; gula aren batu yang dihisap-hisap kemudian dikunyah dan ditelan;  atau tindakan lainnya termasuk bila permasalahan ini dikaitkan dengan covid-19, bukankah semua ini adalah kekayaan subyek dan obyek riset sehingga perlu dilakukan penelitian?
  7. Sangat dibutuhkan kepada berbagai pihak terutama pihak Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Lembaga peneltian di Universitas atau lembaga penelitian yang terkait guna melakukan riset terhadap garis keturunan ini terkait dengan konsumsi ubi sehingga dapat diketahui mengapa itu bisa terjadi, bagaimana bisa terjadi, unsur apa yang menyebabkan kejadian itu, sampai kapan dan garis keturunan ke berapa ini berakhir, dan pertanyaan-pertanyaan penelitian lainnya?

Apakah dengan segera kepada YTH unsur terkait baik di daerah, kementerian dan pihak lainnya dapat menindaklanjuti dalam bentuk riset atau dalam bentuk apa saja guna membantu permasalahan ubi kayu yang bila dikonsumsi dapat menyebabkan kematian pada garis keturunan dimaksud? Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga pula kita selalu melakukan kebaikan dan kedamaian dalam kebenaran yang rasional dan ilmiah. Bersama berkarya sebagai ibadah, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − 2 =

scroll to top