Cegah Penyakit Akibat Rokok, Gorontalo Fokus KTR UBM

IMG-20190531-WA0004.jpg

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2019

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Indonesia menduduki peringkat ketiga untuk jumlah perokok terbesar dari jumlah perokok dunia dan nomor satu di ASEAN (4,8%) setelah Cina (30%) dan India (11,2%). Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2011, menunjukkan bahwa prevalensi merokok diIndonesia adalah sebesar 36,1% (67,4% laki-laki dan 4,5% perempuan), dan rata-rata jumlah batang rokok yang dikonsumsi pada tahun 2010 adalah 10 batang per hari (10 batang pada laki-laki dan 6 batang pada perempuan).

Data itu diungkapkan oleh Pelaksana Program Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa (PTM Keswa) Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Yayah Lakoro, SKM., MPH didampingi Pengelola Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Upaya Berhenti Merokok (UBM) Dinkes Kabupaten Gorontalo Utara Vebriyani Muchtar, SKM saat live di Radio Rakyat Hulonthalo dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Kamis (30/05/2019)

Pelaksana Program PTM Keswa Dinkes Provinsi Gorontalo, Yayah Lakoro, SKM., MPH dan Pengelola Program KTR UBM Dinkes Kabupaten Gorontalo Utara saat Live di Radio Suara RH dalam rangka Hari Tanpa Tembakau, Kamis (30/05/2019)

Menurut WHO 2010, data hasil dari Global Report on NCD (Non Communicable Disease) menunjukkan bahwa prosentase kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) menempati proporsi yang cukup besar yaitu 63%. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih kurang 251 juta jiwa merupakan pasar potensial bagi pengusaha rokok, dikarenakan adanya kebebasan bagi pengusaha rokok untuk mengiklankan, mempromosikan, dan mensponsori berbagai kegiatan di masyarakat.

“Tidak hanya itu, hal lain yang juga sangat memprihatinkan adalah rokok dapat dijual bebas secara eceran terhadap anak-anak. Merokok menimbulkan beban kesehatan, sosial, ekonomi, dan lingkungan tidak saja bagi perokok tetapi bagi orang lain” kata Yayah.

Konsumsi rokok di Indonesia naik tujuh kali lipat dari 33 milyar batang menjadi 240 milyar batang, dengan tingkat konsumsi 240 milyar batang/ tahun sama dengan 658 juta batang rokok per hari, atau sama dengan senilai uang 330 milyar rupiah dibakar oleh para perokok Indonesia setiap hari.

“Untuk Provinsi Gorontalo dari Data Riskesdas Tahun 2007 Prevalensi perokok setiap hari penduduk umur 10 tahun keatas adalah 27,1 % , dengan rerata menghisap sebanyak 14 batang rokok setiap hari. Jenis rokok yang paling disukai oleh perokok adalah kretek filter (73,4%)” bebernya.

Hal ini tentu sangat membahayakan bagi kesehatan, mengingat kandungan bahan kimia dalam rokok sangat banyak diantaranya aseton, amonia, arsenik dan lainnya.

Dijelaskan pula, bahaya merokok sudah terbukti menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti jantung koroner, kanker paru, penyakit paru obstruktif dan stroke. Pada kenyataannya, penyakit-penyakit tersebut baru sebagian dari bahaya merokok bagi kesehatan.

Ada banyak bahaya merokok lainnya yang tidak disadari seorang perokok. Misalnya penurunan daya tahan tubuh sehingga mereka lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Hal tersebut cenderung terjadi secara singkat dan mungkin menyebabkan dampak kesehatan pada kehidupan sehari-hari seorang perokok diantara penyakit asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impoten), dan sebagainya.

Upaya yang dilakukan dalam mencegah penyakit akibat asap rokok di Provinsi Gorontalo baru fokus di Kawasan Tanpa Rokok dan Upaya Berhenti Merokok di lingkungan sekolah, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, Tempat-tempat umum, fasilitas pelayanan kesehatan dan arena kegiatan anak-anak.

“Kami menghimbau supaya penjual rokok tidak mengecer pada anak-anak di bawah umur” imbuh Yayah.

Selain itu, perlu mempertimbangkan harga rokok yg sangat murah sehingga sangat mudah dijangkau. Kedepan agar dipertimbangkan kembali dalam peraturan di daerah masing-masing untuk kepesertaan jaminan kesehatan bagi perokok dan keluarganya karena semua penyakit katastropik yg menjadi beban pembiayaan kesehatan sekarang faktor risikonya rokok.

“Perhatian juga tidak hanya bagi perokok konvensional tapi juga yang vaping alias rokok elektrik” pungkasnya.

Rilis : MD
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 + seventeen =

scroll to top