Agar Mahir dalam Pemasangan Alat Kontrasepsi Pasca Persalinan, Dinkes Provinsi Latih Bidan Desa

WhatsApp-Image-2020-02-20-at-06.03.40.jpeg

Orientasi KB Pasca Persalinan yang dilaksanakan mulai tanggal 17 s.d 20 Februari 2020 di Hotel New Rahmat Kota Gorontalo

Kota Gorontalo, Dinkesprov – Dampak pada peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah resiko 4 T yakni terlalu muda (melahirkan usia < 21 tahun), terlalu tua (melahirkan > 35 tahun), terlalu dekat (jarak kelahiran kurang dari 3 tahun), dan terlalu banyak (jumlah anak atau lebih dari 2).

KB Pasca Persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari atau 6 minggu setelah melahirkan, serta KB Pasca Keguguran merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat dan obat kontrasepsi setelah mengalami keguguran sampai dengan kurun waktu 14 hari.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan KB dr. Rosina Kiu menjelaskan bahwa peningkatan pelayanan KB pasca persalinan sangat mendukung tujuan pembangunan kesehatan dan hal ini juga ditunjang dengan banyaknya calon peserta KB baru (Ibu hamil dan ibu bersalin) yang sudah pernah kontak dengan tenaga kesehatan.

“Seorang ibu yang baru melahirkan bayi biasanya lebih mudah untuk diajak menggunakan kontrasepsi, sehingga waktu setelah melahirkan adalah waktu yang paling tepat untuk mengajak ibu menggunakan kontrasepsi” kata dr. Rosina saat membuka Orientasi Pasca Persalinan, Senin (17/02/2020) di New Rahmat Hotel Kota Gorontalo.

Sementara itu Kasie Kesga, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi (KKPPKBG) Syafiin S. Napu, SKM, M.Kes menyampaikan tujuan dari pelaksanaan pelatihan bidan desa tentang KB pasca salin ini dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), juga meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidan desa dalam hal pelayanan KB pasca salin diwilayah kerjanya serta dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi melalui pelayanan KB yang berkualitas dan terstandar.

Peserta orientasi melakukan simulasi praktek pemasangan alat kontrasepsi pasca persalinan

Menurutnya, pada akhir tahun 2019 persentase ibu meninggal yang melahirkan berusia < 20 tahun sebesar 15,5% dan > 35 tahun adalah 12,5% dari seluruh kematian ibu di Provinsi Gorontalo, sehingga apabila program KB dapat dilaksanakan dengan baik, maka kematian ibu dapat ditekan dengan salah satu program pemakaian kontrasepsi.

Sementara itu, salah satu narasumber pada pelatihan itu dr. Maimun, Spesialis Obgyn mengatakan bahwa kontrasepsi pasca persalinan dianjurkan untuk menggunakan Metode Laktasi Amenore (MAL) atau ASI Ekslusif, tidak harus menghentikan pemberian ASI jika menggunakan salah satu alat kontrasepsi dan kontrasepsi yg digunakan seharusnya tidak mempengaruhi kualitas dan jumlah ASI atau mengganggu kesehatan bayi.

“Beberapa alat kontrasepsi yang dapat digunakan disesuaikan dengan kondisi ibu pasca melahirkan” Tutur dr. Maimun.

Orientasi Pasca Persalinan ini berlangsung selam 4 hari mulai tanggal 17 s.d 20 Februari 2020. Peserta yang dilatih terdiri dari Pengelola Program KB Kab/Kota dan Bidan desa Puskesmas kab/kota se-Provinsi Gorontalo berjumlah 30 orang.

Rilis : OL & MD
Editor : Nancy Pembengo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 5 =

scroll to top